Kongres Internasional Masyarakat Linguistik Indonesia https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli <p><strong>Prosiding Kongres Internasional Masyarakat Linguistik Indonesia (KIMLI)</strong> diterbitkan oleh Masyarakat Linguistik Indonesia. Artikel yang termuat dalam Prosiding KIMLI ini merupakan artikel yang telah dipaparkan pada kegiatan Kongres Internasional Masyarakat Linguistik Indonesia yang mencakup berbagai bidang linguistik seperti fonetik, fonologi, morfologi, sintaks, analisis wacana, pragmatik, antropolinguistik, bahasa dan budaya, dialektologi, dokumentasi bahasa, linguistik forensik, korpus linguistik, linguistik komputasional.</p> <p>Prosiding ini diterbitkan setiap dua tahun sekali.</p> en-US kimli@mlindonesia.org (Luh Anik Mayani) ladislaus@gmail.com (Laga) Tue, 18 Nov 2025 23:26:24 +0000 OJS 3.2.1.4 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 PERKEMBANGAN KOSAKATA BAHASA JAWA DIALEK USING DALAM KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA (KBBI) DARING https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/131 <p>KBBI Daring sebagai kamus acuan utama bahasa Indonesia menyerap kosakata dari banyak bahasa untuk memperkaya bahasa Indonesia. Bahasa yang diserap konsepnya bukan hanya berasal dari bahasa asing, tetapi juga bahasa daerah, termasuk bahasa Jawa dialek Using yang dituturkan di Jawa Timur.<br>Bahasa Using menarik untuk diteliti karena status bahasa ini masih diperdebatkan secara dialektometri. Selain itu, bahasa ini mengandung konsep kebudayaan yang kaya dan konsepnya tidak ditemukan pada bahasa lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perkembangan kosakata bahasa Using yang diserap menjadi bahasa Indonesia, yang meliputi pendeskripsian bentuk-bentuk kosakata dan juga menjelaskan potensi kosakata tersebut untuk memperkaya bahasa Indonesia. Setelah pemutakhiran pada Januari 2025, kosakata bahasa Indonesia di KBBI Daring berjumlah 208.283 lema. Di dalamnya, terdapat kosakata bahasa Jawa dialek Using yang diserap menjadi anggota bahasa Indonesia, yaitu berjumlah 320 entri. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teori utama linguistik antropologis (Duranti, 1997; Foley, 1997), yang mengkaji hubungan antara bahasa dan budaya, serta teori pinjaman bahasa (Haugen, 1950; Thomason &amp; Kaufman, 1988) untuk menjelaskan proses adaptasi kosakata Using ke dalam bahasa Indonesia. Analisis data dilakukan secara linguistik, kultural, dan statistik deskriptif, dengan teknik pengumpulan data berupa simak-catat dari media fisik dan digital. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama, bentuk-bentuk kebahasaan kata serapan dari bahasa Using meliputi adaptasi fonologis, morfologis, dan semantis, dengan tetap mempertahankan ciri khas budaya Using. Kedua, kosakata bahasa Using yang telah menjadi anggota bahasa Indonesia, misalnya angklung paglak, asu koplos, arang suwel, batekan, barong caruk, gajah uling, darakepek, tikel balung mereferensikan domain atau ranah seperti kuliner, kesenian, mistisisme, pertanian, arsitektur, aktivitas sosial, aktivitas tubuh, upacara adat, religi, geografi, dan komponen flora fauna. Ketiga, kosakata ini tidak hanya menambah jumlah lema dalam KBBI, tetapi juga merefleksikan identitas budaya masyarakat Using yang turut memperkaya khazanah budaya nasional.</p> Adista Nur Primantari, Elita Ulfiana Copyright (c) 2025 Adista Nur Primantari, Elita Ulfiana https://creativecommons.org/licenses/by-nd/4.0 https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/131 Tue, 18 Nov 2025 00:00:00 +0000 ANALISIS KONTRASTIF ISTILAH KEKERABATAN DALAM BAHASA INGGRIS DAN BAHASA BESEMAH https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/132 <p>Istilah kekerabatan merupakan istilah untuk menyebut seseorang yang masih memiliki hubungan dengan seorang individu, baik karena hubungan darah atau pernikahan. Setiap bahasa memiliki istilah kekerabatan yang berbeda-beda yang disebabkan oleh budaya yang ada pada masyarakat di mana<br>bahasa itu digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan persamaan dan perbedaan istilah kekerabatan dalam bahasa Inggris dan bahasa Besemah. Data penelitian ini adalah istilah-istilah kekerabatan dalam bahasa Inggris dan bahasa Besemah yang didapatkan melalui buku, kamus, dan<br>artikel. Selain itu, data tambahan dalam bahasa Besemah juga diperoleh melalui wawancara. Data penelitian diklasifikasikan berdasarkan teori prinsip-prinsip kekerabatan yang dikemukakan oleh Nanda &amp; Warms (2011) dan Kroeber &amp; Lowie dalam Murdock (1949) dan dianalisis secara kontrastif untuk<br>menemukan persamaan dan perbedaan istilah kekerabatan pada kedua bahasa. Berdasarkan hasil penelitian, bahasa Inggris dan bahasa Besemah menerapkan empat prinsip kekerabatan yang sama untuk menyebut kerabat, yaitu prinsip generasi, lineal vs. kolateral, konsanguinal vs. afinal, dan jenis<br>kelamin. Bahasa Besemah memiliki aturan yang lebih kompleks dalam penetapan istilah kekerabatan yang juga menerapkan prinsip kekerabatan berdasarkan usia, bifurkasi, dan jenis kelamin penutur. Beberapa istilah kekerabatan dalam bahasa Inggris tidak dimiliki oleh bahasa Besemah dan sebaliknya.</p> Afifah Novintia Copyright (c) 2025 Afifah Novintia https://creativecommons.org/licenses/by-nd/4.0 https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/132 Tue, 18 Nov 2025 00:00:00 +0000 “Byuh alah sampek koyok ngono kui….” TINDAK TUTUR EKSPRESIF GUS IQDAM DALAM INTERAKSI DENGAN JAMAAH MULTIKULTURAL MAJELIS TA’LIM SABILU TAUBAH https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/137 <p>Dalam &nbsp;berinteraksi dengan orang lain, seorang&nbsp; penutur&nbsp; tidak &nbsp;bisa &nbsp;dipisahkan dengan &nbsp;aspek emotifnya sehingga memunculkan fenomena tindak tutur ekspresif. Tindak tutur ekspresif memiliki fungsi mengungkapkan sikap psikologis penutur terhadap keadaan yang tersirat dalam ilokusi tuturan. &nbsp;Gus Iqdam memiliki keunikan dalam melakukan tindak tutur ekspresif dalam berinteraksi dengan jamaahnya. Jamaah majelis ta’lim Sabilu Taubah memiliki latar belakang etnis, agama, dan budaya yang beragam yang berasal dari dalam dan luar negeri. Kegiatan pengajian yang dilaksanakan setiap Senin malam dan Kamis malam selalu dihadiri puluhan ribu jamaah. Fenomena ini sangat menarik dikaji khususnya yang terkait dengan tindak tutur ekspresif Gus Iqdam dalam berinteraksi dengan jamaahnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan tindak tutur ekspresif dalam interaksi Gus Iqdam dengan jamaah multikultural Majelis Ta’lim Sabilu Taubah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan ancangan sosiopragmatik. Data penelitian berupa tuturan yang merepresentasikan tindak tutur ekspresif dalam interaksi Gus Iqdam dengan jemaah multikultural Majelis Ta’lim Sabilu Taubah. Sumber data penelitian ini adalah 20 video pengajian. Video yang &nbsp;direkam langsung di Pondok Pesantren Mambaul Hikam 2 Karanggayam Srengat Blitar sebanyak 4 buah &nbsp;dan yang diunduh dari unggahan di YouTube sebanyak 16 buah. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik deskriptif mengikuti model interaktif Miles dan Huberman (1992). Berdasarkan hasil analisis data ditemukan delapan fungsi tindak tutur ekspresif, yaitu (1) menyatakan rasa senang, (2) menyatakan rasa heran, (3) menyatakan rasa bangga, (4) menyatakan rasa syukur, (5) menyatakan rasa sedih, (6) menyatakan terima kasih, (7) menyatakan rasa marah, dan (8) meminta maaf. Kajian interaksi Gus Iqdam dengan majelis ta’lim multikultural Sabilu Taubah perlu dikaji dari aspek lain, misalnya dari tindak tutur direktif, kesantunan berbahasa, atau dari alih kode dan campur kode.</p> Agung Pramujiono, Suhari Suhari, Mimas Ardhianti, Syamsul Ghufron, Eva Imania Eliasa, Dyah Listya Rahma Unzila, Alifia Faizatuz Zahroh, Michella Eliana Putri, Halimahtus Sa'diyah Copyright (c) 2025 Agung Pramujiono, Suhari Suhari, Mimas Ardhianti, Syamsul Ghufron, Eva Imania Eliasa, Dyah Listya Rahma Unzila, Alifia Faizatuz Zahroh, Michella Eliana Putri, Halimahtus Sa'diyah https://creativecommons.org/licenses/by-nd/4.0 https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/137 Tue, 18 Nov 2025 00:00:00 +0000 EKSISTENSI EUFEMISME DALAM BAHASA BUGIS UNTUK DIKSI SENSITIF SEBAGAI UPAYA MENJAGA HARMONI: PERSPEKTIF SOSIOLINGUISTIK https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/138 <p>Makalah ini membahas eksistensi eufemisme dalam bahasa Bugis sebagai fenomena sosiolinguistik yang merefleksikan nilai-nilai kesantunan, kehormatan, dan harmoni sosial dalam masyarakat penuturnya. Eufemisme dipahami sebagai strategi kebahasaan yang digunakan untuk menggantikan diksi sensitif, tabu, atau bernuansa kasar dengan ungkapan yang lebih halus dan dapat diterima secara sosial. Data penelitian diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara semi-terstruktur dengan penutur Bugis, serta analisis dokumentasi lisan, tulisan budaya lokal, dan literatur ilmiah yang memuat ekspresi eufemistik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode analisis stilistika dan sosiolinguistik untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk eufemisme, konteks penggunaannya, serta faktor sosial yang melatarbelakanginya. Hasil kajian menunjukkan adanya tiga belas mekanisme kebahasaan eufemisme, seperti metaforisasi, perifrasa, metonimia, paradoks semantik, dan variasi fonologis, yang digunakan secara strategis dalam berbagai domain komunikasi—termasuk ranah biologis, sosial, budaya, dan hubungan kekeluargaan. Selain itu, ditemukan lima faktor sosial dominan yang memengaruhi praktik eufemistik, yakni norma kesantunan, sensitivitas gender, nilai agama dan budaya, tabu sosial, serta tujuan komunikatif. Temuan ini menunjukkan bahwa eufemisme dalam bahasa Bugis bukan sekadar pilihan leksikal, melainkan instrumen penting dalam menjaga tata krama, menghindari konflik, serta mempertahankan nilai-nilai lokal seperti <em>siri’</em>, <em>pesse</em>, dan <em>sipakatau</em>. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi penting bagi penguatan teori sosiolinguistik, studi stilistika, serta pelestarian bahasa dan budaya daerah.</p> Ainun Fatimah, Andi Wardatul Wahidah Lufini, Kamsinah Kamsinah Copyright (c) 2025 Ainun Fatimah, Andi Wardatul Wahidah Lufini, Kamsinah Kamsinah https://creativecommons.org/licenses/by-nd/4.0 https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/138 Tue, 18 Nov 2025 00:00:00 +0000 LANSKAP LINGUISTIK PANTAI INDAH KAPUK-1: KAJIAN SIKAP BAHASA https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/139 <p>Dinamika sosial, ekonomi, dan politik di sebuah wilayah sudah divisualisasikan oleh penggunaan bahasa di ruang publik. Dengan demikian, hubungan antara bahasa, ruang, dan masyarakat bisa diungkap melalui lanskap linguistik. Akibatnya, perpaduan masyarakat lokal dan global pada suatu wilayah akan menyuguhkan fenomena menarik seputar penggunaan bahasa di ruang publik, salah satunya yang terjadi di Pantai Indah Kapuk (PIK)-1. Dengan keberagaman produksi lanskap linguistik, terutama pemajanan bahasa asing yang mencolok di PIK-1, penelitian ini akan berusaha mengungkap sikap bahasa yang tercermin dalam lanskap linguistiknya. Metode kualitatif digunakan untuk mengantarkan penelitian ini pada tujuannya. Data dikumpulkan dengan cara memotret papan jalan dan nama toko di sekitar PIK-1 lalu dianalisis dengan teori lanskap linguistik dan sikap bahasa. Analisis dari data menghasilkan penemuan bahwa sikap positif terhadap bahasa Indonesia masih kurang tercerminkan dalam lanskap linguistik papan peringatan, rambu, dan nama pertokoan di PIK-1.</p> Ariel Achmad Pramudya, Pradana Ricardo, Jessica Leony, M. Hafizh Naufal, Tan Fang Fang Copyright (c) 2025 Ariel Achmad Pramudya, Pradana Ricardo, Jessica Leony, M. Hafizh Naufal, Tan Fang Fang https://creativecommons.org/licenses/by-nd/4.0 https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/139 Tue, 18 Nov 2025 00:00:00 +0000 ELEMEN KOGNITIF PADA WACANA STAND-UP COMEDY INDONESIA “AYAH IKHLAS VOLUME 2” https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/140 <p class="Default" style="text-align: justify;"><em><span style="font-size: 11.0pt;">Stand-up comedy </span></em><span style="font-size: 11.0pt;">Indonesia (SUCI) menjadi genre humor yang popular saat ini. Jika di masa sebelumnya, masyarakat mengenal gaya humor <em>slapstick </em>yang mengandalkan tata panggung, rias, dan busana, saat ini bahasa menjadi kekuatan besar untuk berhumor melalui genre tersebut. SUCI berisi keresahan para komika yang diceritakan di atas panggung dengan bermonolog. Keresahan tersebut dipotret dari sudut pandang personal, tetapi mewakili semua orang. Oleh karena itu, sering kali ditemukan kritik sosial dibalik wacana SUCI. Di balik keresahan dan kritik sosial tersebut terdapat sudut pandang komika akan suatu persoalan. Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan elemen kognisi pada wacana SUCI untuk mengungkap hal yang ada di benak komika saat menuturkan keresahan dan kritik sosial. </span></p> <p class="Default" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11.0pt;">Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan data berupa rekaman <em>special show </em>SUCI “Ayah Ikhlas Volume 2” yang dibawakan oleh Komika David Nurbiyanto berdurasi 120 menit. Persona David pada <em>special show </em>ini adalah seorang kepala rumah tangga yang harus menghadapi kemauan istri dan kebutuhan anaknya. Dengan menggunakan analisis wacana kritis (AWK) Van Dijck penulis akan menganalisis kognisi sosial komika David. </span></p> <p class="Default" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11.0pt;">Hasil penelitian ini menunjukkan elemen kognisi pada beberapa skema. Skema menggambarkan cara seseorang menggunakan informasi yang tersimpan di dalam memorinya dan cara mengintegrasikannya dengan informasi baru. Pada skema person, Komika David memandang orang lain tidak adil terhadap dirinya karena menyamakan dia dengan aktor yang sudah terkenal lantaran sudah beberapa kali tampil di televisi, sedangkan skema diri komika David memandang orang lain memandang dirinya seorang aktor sukses karena juara satu kompetisi SUCI. Pada skema peran, komika David merasa lebih inferior daripada istrinya dalam rumah tangga karena tidak bisa mengendalikan kemauan istrinya untuk hidup mewah. Skema peristiwa dalam penceritaan <em>special show</em> ini dilakukan secara runtut mulai dari kehidupan David melepas kompetisi SUCI, persaingan sesama komika, sampai pada masalah rumah tangga yang berpusat pada perekonomian dan pengurusan anak </span></p> Asri Wijayanti, Endang Nurhayati, Suhardi Suhardi Copyright (c) 2025 Asri Wijayanti, Endang Nurhayati, Suhardi Suhardi https://creativecommons.org/licenses/by-nd/4.0 https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/140 Tue, 18 Nov 2025 00:00:00 +0000 THE STRUCTURE OF THEME AND RHEME IN CHILDREN’S STORY: A CASE STUDY OF JAVANESE TO INDONESIAN TRANSLATION https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/141 <p>In translation process, maintaining the theme-rheme structure of the original text is essential to ensure that the translated text remains coherent and retains its original impact. This study aims to observe the structure of theme and rheme in Javanese children’s story and its translation into Indonesian. This research applies Systemic Functional Linguistics theory by Halliday as the theoretical framework. Therefore, the research tries to examine how thematic organization is maintained or altered during the translation process. The research was conducted using qualitative research with a case study approach. The data were taken from bilingual children’s story book entitled <em>Eh, Mecothot</em> published by Kemendikbudristek and issued by Language Centre, Central Java in 2023. The analysis focuses on the types of themes such as topical, textual, or interpersonal theme. The data were then analysed using four step: (1) data reduction, (2) data display, (3) data analysis, and (4) conclusion. The result of the analysis showed that themes found in the story are marked and unmarked topical theme, interpersonal theme, and textual theme. The theme is still maintained in its Indonesian translation and only a few which is shifted in the translation result. The shift is found from unmarked topical theme into interpersonal theme. The shift is happened due to differences in the language structure and communicative preferences in Javanese and Indonesian languages. The study contributes to the understanding of how translation mediates the theme and rheme in the story, offering insights into the challenges of translating children’s literature.</p> Atsani Wulansari Copyright (c) 2025 Atsani Wulansari https://creativecommons.org/licenses/by-nd/4.0 https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/141 Tue, 18 Nov 2025 00:00:00 +0000 HUMOR IN THE RELIGIOUS SPEECH (AN ANALYSIS OF THE RELIGIOUS TERMS) https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/142 <p>Gus Baha’ and Kiai Said (SAS) are two figures of traditionalist Muslims who have a significant influence on Muslim traditionalists, particularly within the <em>Nahdlatul Ulama</em> (NU). The two figures have unique characteristics when delivering the speech, for instance, their speech method in inserting humorous terms. This paper tries to describe the humorous terms that are used by the two figures by using the speech acts theory of illocutionary act and elements of humor. The application of humor within the speech is important for a preacher to reduce and relax the situation. It is not just a way to approach the audience, but also a speech strategy to engage with the audience. This study employs a descriptive qualitative method to analyse the data. The results show that the humorous terms in the form of local language, nickname and foreign language are used by the speakers can make the audience happy and enjoy listening to their speech.</p> Bambang Hariyanto Copyright (c) 2025 Bambang Hariyanto https://creativecommons.org/licenses/by-nd/4.0 https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/142 Tue, 18 Nov 2025 00:00:00 +0000 ANALISIS KALIMAT IMPERATIF DALAM PIDATO PRESIDEN PRABOWO SUBIANTO PADA PERINGATAN HARI GURU 2024 https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/143 <p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan kalimat imperatif dalam pidato Presiden Prabowo Subianto pada Peringatan Hari Guru Nasional 2024, yang diunggah di kanal KompasTV. Kalimat imperatif dalam pidato ini digunakan sebagai sarana untuk mempengaruhi audiens, dengan tujuan untuk memberikan arahan, ajakan, dan penegasan mengenai kebijakan yang diambil oleh pemerintah, khususnya di bidang pendidikan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif, dengan metode pengumpulan data melalui dokumentasi, simak, dan catat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kalimat imperatif dalam pidato tersebut berfungsi sebagai bentuk perintah, ajakan, dan seruan yang mendukung visi pemerintah, seperti peningkatan kualitas pendidikan, perbaikan fasilitas sekolah, pemberantasan korupsi, dan kesejahteraan guru. Berdasarkan hasil analisis pada pidato Presiden Prabowo dalam Peringatan Hari Guru 2024 di kompastv ditemukan empat jenis kalimat imperatif yakni kalimat imperatif ajakan sebanyak 5 kalimat, kalimat imperatif biasa sebanyak 1 kalimat, kalimat imperatif larangan sebanyak 3 kalimat, dan kalimat imperatif permohonan sebanyak 2 kalimat. Sedangkan berdasarkan wujudnya, dalam pidato tersebut ditemukan 11 kalimat aktif tak transitif dan tidak ditemukan kalimat imperatif yang berwujud kalimat aktif transitif dan kalimat imperatif pasif. Kalimat ini digunakan untuk mengajak audiens berpartisipasi aktif dalam mewujudkan perubahan. Pidato ini mencerminkan komitmen Presiden Prabowo untuk menciptakan pendidikan yang lebih baik dan pemerintahan yang bersih di Indonesia.</p> Cahya Putra Alim, Ahmad Rosyid Mohaidlori, Handy Agustiar Imansyah, Elen Nurjanah Copyright (c) 2025 Cahya Putra Alim, Ahmad Rosyid Mohaidlori, Handy Agustiar Imansyah, Elen Nurjanah https://creativecommons.org/licenses/by-nd/4.0 https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/143 Tue, 18 Nov 2025 00:00:00 +0000 TRANSLANGUAGING PRACTICE IN THE HUMAN AND AI TRANSLATION OF FOOD MENU https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/144 <p>Translanguaging practice is common in food menu naming. This study aims to uncover the translanguaging practices that occur in the food menu naming, food menu descriptions and their translations. For example, “mie goreng seafood” in source language (SL) contains Indonesian words ‘mie goreng’ and an English word ‘seafood’ and the structure is following Indonesian noun phrase. Translanguaging practice on public signs such as food menu can be dependent upon the context of the signages, including the locus, time, speakers/creators, and the intended audience. The data were 70 food menu names and their descriptions that were&nbsp; gathered from food stalls around a private university campus in West Jakarta. The food menu names and their descriptions, which were collected under a set of criteria, were then translated into English by a group of students taking a&nbsp; translation class of the above university&nbsp; (hereafter named Human translator) and by Chat GPT (hereafter dubbed AI translator). Thus, the total data were 70 food menu names and descriptions in Indonesian, 70 human translations, and 70 AI translations. The data were then analysed using translanguaging theory and translation theory, to find out how the translanguaging practice can affect the translations of food menu names. This study implies that the translanguaging practices in food naming and translation is necessary to do to gain wider understanding of the rationale behind the above practices in public spaces, which may be related to not only language, but also another aspect such as the marketability of the product to targeted consumers around the research site.&nbsp;</p> Clara Herlina Karjo, Anna Marietta da Silva Copyright (c) 2025 Clara Herlina Karjo, Anna Marietta da Silva https://creativecommons.org/licenses/by-nd/4.0 https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/144 Tue, 18 Nov 2025 00:00:00 +0000 FORMING AN AUTHORSHIP PROFILE THROUGH N-GRAM TRACING https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/145 <p>In forensic linguistics, authorship profiles have become an important tool for identifying and characterizing individuals based on their writing style and authorship attribution. This study employed N-gram tracing, a corpus linguistics mixed computational method that investigates recurring patterns of sequences of words or characters in text. By analyzing WhatsApp (WA) messages extracted from case evidence, this study examines how N-gram patterns can reveal specific linguistic features associated with author identity. The dataset consists of personal texts and microblogs containing approximately 2.1 tokens. To ensure data integrity, the text was cleaned of non-traditional elements such as hyperlinks and media files during a preprocessing phase. N-grams on both character and word level, including N1-N5, were extracted and examined for diversity, frequency, distribution, and contextual usage patterns. To discern stylistic consistency across texts attributed to a particular individual, a machine learning model was used to calculate the similarity index and evaluate these linguistic fingerprints. Initial results suggest that certain N-gram patterns, such as orthographic selection and lexical choice, are highly indicative of individual influence. Profiling is also enhanced with linguistic markers such as abbreviations, code-switching, and unique styles present in informal communication. This study demonstrates that N-gram tracing is not only effective in identifying authorship but can also provide information on demographic and psychological features such as age, gender, and communication preferences. The fields of forensic linguistics and computational authorship analysis benefit from this study as it provides a robust and scalable technique for profiling authors based on real-world data. Furthermore, it highlights the ramifications in the legal context, emphasizing the potential for N-gram search to aid investigations where digital communication is critical. Extending the analysis to multilingual data and integrating semantic-level profiling to improve accuracy are future steps.</p> Devi Ambarwati Puspitasari Copyright (c) 2025 Devi Ambarwati Puspitasari https://creativecommons.org/licenses/by-nd/4.0 https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/145 Tue, 18 Nov 2025 00:00:00 +0000 PENGGUNAAN AKRONIM TERHADAP PIDATO PRESIDEN, WAKIL PRESIDEN, DAN JAJARAN MENTERI DI RAKORNAS 2024 SICC BOGOR MELALUI KANAL YOUTUBE KOMPAS: ANALISIS BERBASIS KORPUS https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/146 <p>Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui bagaimana akronim digunakan dalam pidato Presiden, Wakil Presiden, dan Jajaran Menteri pada Rakornas 2024 di SICC Bogor sebagai alat strategis dalam perdebatan politik. Penelitian ini menyelidiki pola frekuensi, kolokasi, dan makna akronim baru melalui penggabungan pendekatan kuantitatif dan kualitatif dalam analisis korpus. Menggunakan perangkat lunak AntConc, data utama diproses untuk analisis kolokasi dan konkordansi dari teks pidato yang diambil dari saluran YouTube Kompas. Hasil utama menunjukkan bahwa akronim seperti TNI (Tentara Nasional Indonesia), UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah), dan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) sering digunakan, menekankan masalah strategis seperti keamanan nasional, pengembangan ekonomi, dan pemberantasan korupsi. TNI dan UMKM biasanya dikaitkan dengan pertahanan, dan akronim ditempatkan dalam konteks tertentu. Penelitian ini menemukan bahwa akronim tidak hanya menjadikan komunikasi politik lebih sederhana, tetapi juga membuatnya lebih efektif dan relevan, terutama bagi generasi muda yang terbiasa dengan komunikasi singkat di era digital. Penggunaan akronim menunjukkan bahwa pemerintah ingin menyampaikan pesan yang strategis dan menarik melalui wacana politik kontemporer.</p> Dini Arifa Ayunisa Copyright (c) 2025 Dini Arifa Ayunisa https://creativecommons.org/licenses/by-nd/4.0 https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/146 Tue, 18 Nov 2025 00:00:00 +0000 PEMBERIAN NAMA PADA RUANG PUBLIK DI KOTA BANDAR LAMPUNG: PERSPEKTIF LANSKAP LINGUISTIK https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/147 <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep penamaan pada ruang publik di Kota Bandar Lampung dengan menggunakan pendekatan linguistik lanskap.&nbsp;Lanskap linguistik dipahami sebagai segala bentuk penggunaan bahasa yang tampak di ruang publik dan berfungsi untuk memberikan informasi, identifikasi, atau bahkan mempengaruhi persepsi masyarakat.&nbsp;Target dari penelitian ini yaitu memberikan&nbsp;nama pada ruang publik, seperti jalan, taman, alun-alun, atau kawasan tertentu, memiliki makna sosial dan budaya yang penting, selain sebagai penanda geografis.&nbsp;&nbsp;Metode dalam penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, dimana peneliti langsung mendeskripsikan konsep penamaan pada ruang publik di Kota Bandar Lampung dengan kajian linguistik lanskap.&nbsp;Lanskap linguistik dipahami sebagai segala bentuk penggunaan bahasa yang tampak di ruang publik dan berfungsi untuk memberikan informasi, identifikasi, atau bahkan mempengaruhi persepsi masyarakat. Ruang publik yang menjadi objek penelitian meliputi papan nama jalan, papan nama kafe, papan nama perkantoran, dan papan nama warung atau kios. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu dengan pengamatan dan wawancara, setelah itu data dianalisis dalam penyajian, kemudian diberikan analisis setelah data terkumpul. Hasil dari penelitian ini menunjukkan: secara informasi konsep penamaan di Kota Bandar Lampung merujuk kepada faktor sejarah (terkait penggunaan nama pahlawan daerah pada masa penjajahan), harapan dan kesepakatan. Sementara itu, secara simbolik konsep penamaan berdasarkan adanya relasi kuasa dan relasi budaya pada papan nama jalan, imperialisasi bahasa pada papan nama kafe, imperialisasi bahasa dan status bahasa pada papan nama warung sedangkan untuk pemberian nama pada papan nama perkantoran dikategorikan ke dalam kebijakan bahasa dan status bahasa yang digunakan ialah bahasa resmi.&nbsp;Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam memahami hubungan antara bahasa, ruang, dan identitas dalam konteks perkotaan, serta dapat menjadi referensi bagi pengembangan kebijakan pemberian nama ruang publik di kota-kota lain.</p> Doni Alfaruqy, Sunarsih Sunarsih, Tefur Nur Rohman, Anjar Nur Cholifah, Reza Pustika Copyright (c) 2025 Doni Alfaruqy, Sunarsih Sunarsih, Tefur Nur Rohman, Anjar Nur Cholifah, Reza Pustika https://creativecommons.org/licenses/by-nd/4.0 https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/147 Tue, 18 Nov 2025 00:00:00 +0000 PENELUSURAN JEJAK MIGRASI SUKU JAWA MELALUI VARIASI DAN DISTRIBUSI BAHASA DI KABUPATEN PANGANDARAN https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/148 <p>Mayoritas penduduk Kabupaten Pangandaran merupakan suku Sunda. Namun, kebijakan politik pada masa Orde Baru di Indonesia, yaitu transmigrasi, telah memicu perpindahan suku Jawa ke wilayah tersebut. Mobilitas ini diperkuat oleh adanya peluang kerja di perkebunan kelapa serta pembangunan akses jalur kereta api menuju Pangandaran. Perpindahan ini secara tak terelakkan memengaruhi dinamika sosial budaya dan kebahasaan di daerah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri migrasi suku Jawa melalui pemetaan sebaran dan variasi bahasa di Kabupaten Pangandaran. Pendekatan yang digunakan adalah metode campuran, yang menggabungkan metode kuantitatif dan kualitatif. Metode kuantitatif digunakan untuk menganalisis hubungan antarvariabel linguistik melalui perhitungan dialektometri, sementara metode kualitatif memberikan wawasan mengenai situasi kebahasaan di Kabupaten Pangandaran berdasarkan hasil analisis kuantitatif tersebut. Penelitian ini mengintegrasikan perspektif dialektologis dan sosiolinguistik. Temuan di lapangan menunjukkan bahwa pemetaan bahasa yang paling menonjol berada pada kategori dua etima, yang mengindikasikan keberadaan dua bahasa yang berbeda di wilayah Pangandaran, yaitu bahasa Sunda dan bahasa Jawa. Selain itu, berkas isoglos dan peta jaring laba-laba menyoroti adanya distribusi variasi leksikal yang dominan di wilayah timur, selatan, dan barat daya kabupaten. Variasi yang berbasis pada perhitungan dialektometri ini dengan jelas menunjukkan batas linguistik antara bahasa Sunda dan bahasa Jawa. Bahasa Sunda digunakan hampir di seluruh wilayah, tercatat pada 20 titik pengamatan, sedangkan bahasa Jawa hanya ditemukan di 5 titik. Wawancara dengan narasumber mengungkapkan bahwa bahasa Jawa dibawa oleh suku pendatang yang menetap di wilayah pegunungan dan wilayah yang dilewati jalur kereta api.</p> Dwi Wahyuni Copyright (c) 2025 Dwi Wahyuni https://creativecommons.org/licenses/by-nd/4.0 https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/148 Tue, 18 Nov 2025 00:00:00 +0000 FORENSIC LINGUISTIC ANALYSIS OF INSULTING SPEECH CASES AND ALLEGATIONS OF RELIGIOUS COERCION https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/149 <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>This study analyzes the forms of utterances that indicate the elements of insults and accusations of religious coercion found in the Police Interrogation Report (BAP). Data sources were obtained from Bugis language utterances in the BAP that had been made by the investigator and were suspected of containing expressions of insults and accusations against certain religious communities. The data collection technique was conducted by observing the texts in the BAP with note-taking technique. The data were analyzed using a forensic linguistics perspective with the help of syntactic tools to explore lexical choices along with the Bugis socio-cultural context. The results of the analysis indicated that several lexical items were found that have the meaning of insulting the Tolotang religion, which is one of the religions adhered to by a small part of the Sidrap district community in South Sulawesi. The utterances found in the form of insulting utterances that can trigger individual and racial conflicts, for example the utterance “Tolotang asu, babi”. Other utterances contain accusations of religious coercion, which further strengthens the defamation aspect of both personal and religious groups. The utterances found reflected high negative emotions that could potentially violate the ITE Law because they were also delivered on Facebook. This research is expected to give educational contribution on the importance of linguistic intelligence in conveying expressions of annoyance and displeasure towards certain individuals or religious communities.</p> Ery Iswary , Fakhira Yaumil Utami Copyright (c) 2025 Ery Iswary , Fakhira Yaumil Utami https://creativecommons.org/licenses/by-nd/4.0 https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/149 Tue, 18 Nov 2025 00:00:00 +0000 VARIASI DAN FUNGSI BAHASA DI MASJID RAYA SHEIKH ZAYED KOTA SURAKARTA: KAJIAN LANSKAP LINGUISTIK https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/150 <p>Fenomena lanskap linguistik terkait dengan ruang publik yang berupa tanda bahasa yang terdapat di Masjid Raya Sheikh Zayed Kota Surakarta menjadi latar belakang dalam penelitian ini. Penelitian ini dilakukan karena terdapat beberapa bahasa yaitu bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Arab, bahasa Jawa. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan kontestasi bahasa, pelaku, dan fungsi yang berkaitan dengan lanskap linguistik di Masjid Raya Sheikh Zayed Kota Surakarta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu deskriptif kualitatif dengan menggunakan kajian teori linguistik lanskap dari Landry dan Bourchis (Landry &amp; Bourhis, 1997). Metode pengumpulan data mencakup teknik observasi, fotografi, dan dokumentasi. Untuk menganalisis data, digunakan teknik pengumpulan, pengurangan, dan penyajian data. Temuan penelitian menunjukkan adanya persaingan bahasa dalam konteks linguistik Masjid Raya Sheikh Zayed di Kota Surakarta, yang melibatkan Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Arab, dan Bahasa Jawa dengan penggunaan baik secara monolingual maupun bilingual. Terdapat tiga variasi bahasa yang terlihat dalam tampilan, yaitu 1) Bahasa Indonesia; 2) Bahasa Inggris; dan 3) Bahasa Jawa. Ketiga bahasa ini menjadi yang dominan dalam persaingan bahasa karena muncul di seluruh sumber dalam lanskap tersebut. Persaingan itu juga mencakup bahasa tambahan yang digunakan secara bilingual. Otoritas publik bertindak sebagai pihak utama dalam Lanskap Linguistik ini, dengan tanda publik yang mendukung kebijakan penggunaan Bahasa Indonesia, Inggris, dan Jawa di seluruh sumber informasi. Lanskap Linguistik mempunyai beberapa fungsi, seperti 1) tanda pada bangunan, alat, dan lokasi tertentu; 2) penunjuk informasi; 3) peringatan dan larangan; serta 4) penyebaran iklan. Fungsi yang paling menonjol dalam lanskap linguistik di Masjid Raya Sheikh Zayed, Kota Surakarta, lebih cenderung berfungsi sebagai penunjuk informasi yang dapat ditemukan di hampir seluruh area masjid.&nbsp;</p> Essa Rohimah Sari, Ani Rakhmawati Copyright (c) 2025 Essa Rohimah Sari, Ani Rakhmawati https://creativecommons.org/licenses/by-nd/4.0 https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/150 Tue, 18 Nov 2025 00:00:00 +0000 PERAN KO-TEKS DAN KONTEKS DALAM MEMAHAMI PESAN POLITIK DI MEDIA SOSIAL https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/151 <p>Bahasa memainkan peran penting dalam politik, tidak hanya sebagai sarana komunikasi, tetapi juga sebagai alat untuk membangun dan mempertahankan kekuasaan. Dalam konteks politik modern, wacana politik sering kali digunakan untuk memengaruhi persepsi publik, membingkai narasi kebijakan, dan menguatkan ideologi tertentu. Latar belakang penelitian ini didasari oleh semakin kompleksnya hubungan antara bahasa dan politik di era globalisasi dan digitalisasi, di mana media sosial menjadi platform utama komunikasi politik. Fenomena ini memunculkan pertanyaan penting: bagaimana bahasa digunakan oleh aktor politik untuk memengaruhi masyarakat? Apa implikasinya terhadap demokrasi, keberagaman, dan kekuatan masyarakat? Rumusan masalah yang akan dijawab adalah: (1) Bagaimana strategi linguistik digunakan dalam wacana politik untuk mencapai tujuan tertentu? (2) Apa dampak penggunaan bahasa politik terhadap opini publik? (3) Bagaimana media sosial mengubah pola komunikasi politik? Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis wacana kritis (CDA). Data diperoleh melalui studi dokumen, yakni pidato politik, unggahan media sosial politisi, dan liputan media. Analisis dilakukan dengan menggunakan model Fairclough, yang memadukan aspek linguistik, sosial, dan ideologis untuk memahami penggunaan bahasa dalam konteks politik. Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa&nbsp; pemahaman mendalam tentang ko-teks dan konteks berkontribusi pada studi interdisipliner yang menghubungkan linguistik, politik, dan teknologi komunikasi.</p> Esti Ismawati, Kun Andyan Anindito Copyright (c) 2025 Esti Ismawati, Kun Andyan Anindito https://creativecommons.org/licenses/by-nd/4.0 https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/151 Tue, 18 Nov 2025 00:00:00 +0000 SYLLABLE STRUCTURES OF IDENTICAL COGNATES SHARED BY INDONESIAN AND MALAY DIALECTS https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/152 <p>Indonesian, the national language language of the Republic of Indonesia, is a language code derived from a standard variation of Malay, i.e Riau Malay. Meanwhile, there are many other dialects of Malay spoken in many places in the Republic of Indonesia. Bangka, Banjar, Deli, Jambi, Kerinci, Langkat, Minangkabau, and Palembang, are, at least, language codes becoming the major dialects of Malay. Since Indonesian and Malay dialects are derived from the same ancestor language, i.e. Proto-austronesian, there are cognates shared by the language codes: both the identical and the non-identical ones. This article investigates the phonological aspects of the cognates, especially the identical ones. The cognates are obtained from (1) lexical items becoming entries in dictionaries of Malay dialects above-mentioned and (2) Indonesian lexical items in <em>Kamus Besar Bahasa Indonesia</em>, i.e. the phonological forms of which are identical with the phonological forms of Malay-dialects lexical items. Therefore, the data corpora for this investigation are the phonological forms of the cognates. The phonological forms of the cognates are determined by referring to (1) the phonological forms of lexical items which are already available in the dictionaries of Malay dialects and (2) rules of grapheme-phoneme correspondences in Indonesian proposed by Hasan (2013) &amp; Fauzi (2015). The distribution of segments (consonants, vowels, and diphthongs) and the distribution of length (as one of suprasegmental features) in the identical cognates shows patterns of syllable structures. The patterns of syllable structures show phonotactic constraints, i.e. the ones which are related to the phonotactic rules of every Malay dialects involved in this investigation.</p> Fauzi Syamsuar, Priyoto Priyoto, Sahril Mujani Copyright (c) 2025 Fauzi Syamsuar, Priyoto Priyoto, Sahril Mujani https://creativecommons.org/licenses/by-nd/4.0 https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/152 Tue, 18 Nov 2025 00:00:00 +0000 KALIMAT INTEROGATIF BAHASA LANI DI PROVINSI PAPUA PEGUNUNGAN (KAJIAN TIPOLOGI) https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/153 <p>Bahasa Lani merupakan salah satu bahasa yang digunakan di Provinsi Papua Pegunungan. Bahasa Lani memiliki penutur terbanyak dibanding bahasa lain di Tanah Papua. Bahasa tersebut dulunya dikenal dengan nama Dani Barat, yang memiliki kekerabatan erat dengan bahasa Hubula atau Dani. Bahasa Lani merupakan objek yang dikaji pada penelitian ini. Bahasa tersebut tergolong dalam bahasa Non Austronesia atau bahasa Papua di Tanah Papua. Penelitian bahasa Lani belum banyak dilakukan, sehingga penelitian ini menjadi salah satu cara untuk melestarikan bahasa tersebut. Secara tipologi sintaksis, bahasa Lani merupakan bahasa berstruktur subjek-objek-verba (SOV). Selain itu, secara tipologi morfologi, bahasa Lani merupakan bahasa infleksi atau bahasa fusi karena memiliki kategori infleksi khususnya seperti jumlah, kala, persona, modus, kasus, dan lainnya, yang memproduksi bentuk berbeda dari kata yang sama. Penelitian ini bertujuan yaitu (1) mengidentifikasi bentuk-bentuk kalimat interogatif Bahasa Lani, (2) menjelaskan struktur kalimat interogatif bahasa Lani dan (3) menjelaskan distribusi kata tanya pada kalimat bahasa Lani. Teori yang digunakan untuk menganalisis yaitu teori tipologi Shopen (2007), Siemund (2001), dan Dixon (2010). Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dalam paradigma tipologi. Metode pengumpulan data dilakukan dengan tiga teknik yaitu teknik observasi, teknik wawancara, dan teknik kajian pustaka. Metode analisis data yang akan digunakan adalah metode distribusional (agih). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua bentuk kalimat tanya dalam bahasa Lani, yaitu kalimat tanya polar dan kalimat tanya isi. Kalimat tanya dalam bahasa Lani selalu ditandai dengan adanya kata tanya, yaitu nano ‘apa’, ta ‘siapa’, nonggop ‘mengapa’, nonggop ‘bagaimana’, ngge ‘di mana’, mande ‘berapa banyak’, dan mandenom ‘kapan’. Distribusi kata tanya terdapat di awal kalimat, di tengah kalimat, dan di akhir kalimat. Selain itu, dalam kalimat tanya Lani, terdapat intonasi yang cukup menarik dan partikel akhir.</p> Grace J.M. Mantiri Copyright (c) 2025 Grace J.M. Mantiri https://creativecommons.org/licenses/by-nd/4.0 https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/153 Tue, 18 Nov 2025 00:00:00 +0000 AFIKSASI DALAM PEMBENTUKAN KATA SIFAT PADA BAHASA INGGRIS, BAHASA INDONESIA, DAN BAHASA GORONTALO: ANALISIS KOMPARATIF https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/154 <p>Setiap bahasa memiliki struktur morfologi yang unik, dan proses pembentukan kata merupakan bidang kajian yang penting. Meskipun banyak penelitian mengenai afiksasi dalam berbagai bahasa, belum ada penelitian komparatif mengenai afiksasi kata sifat dalam bahasa Inggris, Indonesia, dan Gorontalo. Kami bertujuan untuk mengatasi kesenjangan ini dengan menganalisis proses afiksasi pada kata sifat dalam ketiga bahasa ini, khususnya meneliti prefiks, sufiks, infiks, dan sirkumfiks. Analisis kami bergantung pada kerangka teori dari Aronoff dan Fudeman (2023) untuk bahasa Inggris, Moeliono et al. (2017) untuk bahasa Indonesia, dan Alitu P.M et al. (1988) untuk bahasa Gorontalo, dengan menggunakan pendekatan analisis komparatif dan menggunakan data dari buku-buku dan artikel-artikel ilmiah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam bahasa Inggris, prefiksasi mengubah makna kata sifat tanpa mengubah kelas katanya, sementara di Indonesia dan Gorontalo, prefiksasi mengubah makna dan kelas kata kata sifat. Sufiksasi dalam bahasa Inggris mengubah kata sifat menjadi kata kerja, kata keterangan, atau kata benda, sedangkan di Indonesia dan Gorontalo, sufiksasi menghasilkan kata benda dan kata kerja dari kata sifat. Infiksasi sangat terbatas pada kata sifat dalam bahasa Inggris, sedangkan di Indonesia dan Gorontalo, infiksasi memfasilitasi perubahan morfologis yang signifikan pada kata sifat. Infiksasi di ketiga bahasa mengubah kelas kata dan makna kata sifat. Temuan penelitian ini berkontribusi pada pemahaman yang lebih dalam tentang proses morfologis dalam bahasa-bahasa ini, menyoroti implikasi potensial mereka untuk teori linguistik dan analisis morfologi lintas bahasa.</p> Hanisah Nanafi, Nur Afriyanti Nani Copyright (c) 2025 Hanisah Nanafi, Nur Afriyanti Nani https://creativecommons.org/licenses/by-nd/4.0 https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/154 Tue, 18 Nov 2025 00:00:00 +0000 FILM ANIMASI UPIN-IPIN: DAMPAK TERHADAP CARA BERBAHASA ANAK https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/155 <p>Kajian ini merupakan kajian deskripitif kualitatif. Fokus kajian adalah dampak film animasi Upin Ipin terhadap cara berbahasa anak (siswa). Sumber data adalah anak anak/siswa TK dan SD yang suka menonton film animasi Upin dan Ipin (dengan rentang umur 5-12 tahun) yang secara rutin menonton film Upin dan Ipin. Sampel penelitian&nbsp; sebanyak 30 anak/siswa TK dan SD. Penentuan sampel berdasarkan metode purposive sampling. Yang dijadikan sampel adalah anak/siswa yang gaya bicaranya terdampak oleh film Upin dan Ipin. Data dikumpulkan dengan menggunakan metode observasi dan wawancara. Observasi dilakukan terhadap perilaku anak berbahasa di rumah dan di sekolah. Di samping menggunakan metode observasi, penggalian data juga dilakukan dengan wawacara. Wawancara dilakukan dengan guru TK dan SD yang berinteraksi langsung dengan anak yang cara berbahasanya terdampak oleh film Upin dan Ipin. Untuk memperkaya data, wawancara juga dilakukan pada orang tua anak. Data hasil observasi selanjutnya dikelompokkan menjadi1) kategori temuan kosa kata yang sering digunakan, frase, dan struktur kalimat, dan&nbsp;&nbsp; gaya bicara (logat bicara), 2) frekuensi penggunaan&nbsp; kosa kata bahasa Melayu pada film Upin dan Ipin , frekuensi penggunaan frase, dan struktur kalimat, dan&nbsp;&nbsp; gaya bicara (logat bicara). Data hasil wawancara dianalisis untuk mentrianggulasi data hasil observasi dengan tujuan memvalidasi data hasil observasi. Hasil analisis data ditemukan sebanyak 67 % anak menggunakan kata betul-betul dalam berkomunikasi, 52 % menggunakan kata cikgu, 65% menggunakan kata sedapnye, 68% menggunakan kata saya suke, 69% menggunakan kata macem mane, 66 % menggunakan kata dua singgit-dua singgit serta 75% meniru gaya bicara film Upin dan Ipin. Dampat positif film Upin dan Ipin terhadap perkembangan bahasa anak adalah 1) dapat memperkaya kosa-kata 2) dapat meningkatkan keterampilan berbicara 3) dapat mengembangkan keterampilan menyimak, 4) meningkatkan pemahaman emosi dan ekspresi verbal, 5) menguatkan struktur kalimat, 6) dapat mengembangkan daya imajinasi dan kreativitas anak dalam berbahasa.</p> I Ketut Suar Adnyana Copyright (c) 2025 I Ketut Suar Adnyana https://creativecommons.org/licenses/by-nd/4.0 https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/155 Tue, 18 Nov 2025 00:00:00 +0000 KLASIFIKASI LEKSIKON HEWAN DALAM PERIBAHASA JAWA (STUDI ETNOLINGUISTIK) https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/156 <p><em>Paribasan</em> atau peribahasa Jawa merupakan bagian dari kebudayaan Jawa. Peribahasa Jawa mengandung makna, nilai, filosofi dan pandangan hidup masyarakat Jawa. Jika diamati, peribahasa Jawa kerap menggunakan bahasa atau metafora yang berkaitan dengan alam sekitar, misalnya penggunaan nama tumbuhan, bunga, buah, hingga hewan. Adapun&nbsp; karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengklasifikan peribahasa Jawa yang menggunakan leksikon hewan. Metode penelitian dilakukan dengan studi pustaka dengan analisis deskriptif kualitatif melalui pendekatan etnolinguistik. . Adapun hasil dari penelitian, terdapat 63 peribahasa yang memakai leksikon hewan, dengan 41 jenis hewan. Dari 41 jenis hewan tersebut ditemukan tujuh klasifikasi leksikon berupa;&nbsp; binatang ternak (5), peliharaan (2), unggas (10), ikan (8), reptilia (7), serangga (3), dan hewan liar (6). Bentuk leksikon hewan dalam peribahasa Jawa berupa kata dan frasa. Selain itu, pemakaian leksikon hewan dalam peribahasa menjadi simbol budaya masyarakat Jawa, misalnya kedekatan dengan alam, situasi sosial yang kental dengan budaya agraris, hingga kepercayaan.</p> Idatus Sholihah Copyright (c) 2025 Idatus Sholihah https://creativecommons.org/licenses/by-nd/4.0 https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/156 Tue, 18 Nov 2025 00:00:00 +0000 TINJAUAN LINGUISTIK LANSKAP TERHADAP PENGGUNAAN BLENDING PADA RUANG PUBLIK: KASUS POSTER KEGIATAN MAHASISWA DI PERGURUAN TINGGI KOTA MAKASSAR https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/157 <p>Lebih dari dua dekade terakhir penggunaan singkatan, akronim, dan blending cenderung meningkat, bahkan menjadi trend dalam berbahasa. Penggunanya tidak terbatas pada kelompok umur atau profesi tertentu Penggunaannya bukan saja dalam situasi informal, melainkan juga dalam situasi dan forum resmi pun sudah sering kita mendengar dan membacanya. Untuk kedua istilah yang pertama (singkatan dan akronim) sudah sering diteliti dan dibahas oleh mahasiswa di level sarjana dan juga pascasarjana untuk keperluan penyelesaian studi (skripsi dan tesis). Namun, untuk istilah blending tampaknya masih minim diperhatikan. Sejauh pengamatan kami, penggunaan blending di ruang publik juga semakin marak, Penggunaannya mudah ditemukan di tempat-tempat umum. Fenomena ini akan dikaji dari sudut pandang linguistik lanskap (LL) yang merupakan gabungan pendekatan berbagai bidang linguistik seperti sosiolinguistik, antropolinguistik, psikolinguistik dan lain-lain. Penelitian ini bertujuan mengungkap fenomena penggunaan blending, khususnya pada poster kegiatan mahasiswa di Kota Makassar dari perspektif LL. Secara khusus, kajian ini bertujuan mengungkap bagaimana fungsi informasi dan fungsi simbolik serta bagaimana konfigurasi penataan grafis dan simbolnya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, yaitu dengan mengambil semua poster kegiatan mahasiswa yang memuat blending ditemukan di sejumlah perguruan tinggi di Kota Makassar. Metode pengumpulan datanya adalah survei, dokumentasi, tangkapan layar (<em>screenshoot</em>), pencatatan, dan penabulasian. Penganalisisan data dilakukansecara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari segi fungsi informasi, blending-blending yang digunakan dalam poster kegiatan mahasiswa tersebut beragam seperti pemberitahuan, pengumuman, ajakan, himbauan, dan undangan. Sementara fungsi simboliknya dapat berupa komunikasi nonverbal, interaksional, kerja sama, dan kompetitif. Selanjutnya, berkenaan dengan konfigurasi penataan grafis dan simbolnya juga memperlihatkan keberagaman model seperti adanya penonjolan simbol-simbol tertentu seperti logo organisasi dan perkumpulan, nama blendingnya, serta penataan warna.</p> Ikhwan M. Said, Muh. Alief Muh. Alief Copyright (c) 2025 Ikhwan M. Said, Muh. Alief Muh. Alief https://creativecommons.org/licenses/by-nd/4.0 https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/157 Tue, 18 Nov 2025 00:00:00 +0000 MAKNA KULTURAL BATU DALAM TOPONIMI WILAYAH KOTA AMBON (KAJIAN ANTROPOLINGUISTIK) https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/158 <p>Batu rupanya memiliki kekhususan tersendiri yang turut membawa pengaruh besar dalam dalam perkembangan kehidupan masyarakat Kota Ambon. Hal ini salah satunya dapat kita lihat pada penggunaan kata ‘batu’ pada sekian banyak nama tempat dalam wilayah administratif Kota Ambon, seperti <em>Batumeja, Batugantong, Batugong</em>, ataupun dalam bahasa lokal <em>hatu</em> atau <em>hau</em>, seperti <em>Haturissa, Hausahuri, Haulalutu</em>, dan lain-lain. Selain latar belakang unsur geografis, penggunaan kata <em>batu</em> pada nama-nama tempat tersebut pasti memiliki latar belakang filosofis yang mencerminkan nilai-nilai sosial dan budaya masyarakat Kota Ambon di balik setiap fitur semantisnya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mendeskripsikan cerminan gejala kebudayaan yang muncul dalam penggunaan kata <em>batu</em> pada toponimi wilayah Kota Ambon, yang dikaji dari segi antropolinguistik.&nbsp;Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif deskriptif (Creswell, 2018) dan etnografis, (Spradley, 1979). Dengan menggabungkan kedua pendekatan ini, maka peneliti berusaha memahami gejala pemberian nama atau toponimi di pulau Ambon yang menggunakan kata <em>batu</em> sebagai representasi nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Maluku tanpa dimanipulasi. Lokasi penelitian berfokus pada Kecamatan Sirimau dan Kecamatan Leitimur Selatan Kota Ambon yang memiliki banyak toponimi dengan kata <em>batu, hatu</em>, dan <em>hau</em>. Metode pengumpulan data yang digunakan antara lain: observasi partisipatoris, wawancara, dan studi pustaka. Analisis data dilakukan dengan metode padan referensial dan padan translasional, untuk kemudian dianalisis secara etnosemantis. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan dua puluh toponimi yang mengandung unsur batu, yang terbagi dalam tiga aspek, yakni aspek fisik, sosiohistoris, dan folklor. Secara lingual, unsur-unsur toponimi tersebut berbentuk polimorfemis, yang terdiri dari reduplikasi dan komposisi. Makna kultural yang terkandung dalam toponimi tersebut menyangkut pola pikir, cara bertahan hidup, aktivitas, serta penghormatan mereka terhadap Tuhan dan sesama. Selain itu, terdapat nilai-nilai kedamaian dan kesejahteraan yang terkandung dalam unsur-unsur toponimi tersebut.</p> Leonora Farilyn Pesiwarissa Copyright (c) 2025 Leonora Farilyn Pesiwarissa https://creativecommons.org/licenses/by-nd/4.0 https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/158 Tue, 18 Nov 2025 00:00:00 +0000 TINJAUAN ONOMASTIK TERHADAP NAMA SALON KUKU DI KABUPATEN SLEMAN https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/159 <p>Peningkatan jumlah salon kuku di Kabupaten Sleman, Yogyakarta, merupakan salah satu ciri daerah perkotaan yang peluang usahanya terbuka lebar dan menunjukkan adanya kebutuhan untuk memasuki modernitas, termasuk memenuhi standar kecantikan modern, juga tinggi. Artikel ini merupakan respons terhadap urbanisasi yang tercermin pada jumlah salon kuku dan penamaannya di Kabupaten Sleman. Artikel ini juga bertujuan mendeskripsikan dan menguraikan nama-nama salon kuku di Kabupaten Sleman. Data diperoleh dengan mencari bisnis salon kuku di <em>Google Maps</em> yang berada di Sleman dan mencatat hasil temuannya, kemudian dianalisis dengan metode intralingual dan ekstralingual. Metode intralingual digunakan untuk mengidentifikasi tempat usaha sebagai salon kuku berdasarkan penggunaan kata <em>kuku</em>, <em>nail</em>, dan <em>nailart</em>. Metode ekstralingual digunakan untuk menguraikan referensi nama salon kuku. Dari 63 data yang diperoleh, 45 salon menggunakan kata <em>kuku</em>, <em>nail</em>, dan <em>nailart</em>, 24 salon dengan nama pemiliknya, 21 salon menggunakan kata yang berkonotasi dengan kecantikan dan/atau femininitas, 11 salon menggunakan kata-kata yang berhubungan harapan, dan 4 salon menggunakan kata yang berkonotasi dengan kekhasan gaya hiasan kuku. Hal ini mencerminkan bahwa urbanisasi juga berdampak pada pemilihan bahasa yang digunakan untuk nama tempat usaha yang cenderung menggunakan bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia. Selain itu, penggunaan kata <em>kuku</em> dan <em>nail</em> yang spesifik mencerminkan bahwa standar kecantikan modern menuntut tempat khusus untuk mempercantik kuku untuk acara-acara khusus atau sekadar kemewahan kecil untuk menghibur diri. Penggunaan bahasa Inggris juga mencerminkan sikap bahasa yang menganggap bahwa bahasa Inggris adalah bahasa modern, serta terlebih lagi untuk membedakan bisnis tersebut dari bisnis terkait kecantikan lainnya, seperti salon rambut dan klinik kecantikan.</p> Lidwina Chastity Maya Yulita Copyright (c) 2025 Lidwina Chastity Maya Yulita https://creativecommons.org/licenses/by-nd/4.0 https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/159 Tue, 18 Nov 2025 00:00:00 +0000 NAMA-NAMA TEMPAT DI KABUPATEN LOMBOK TENGAH: REFLEKSI GEOGRAFI, SEJARAH, DAN TRADISI SOSIAL https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/160 <p>Penelitian ini mengeksplorasi penamaan desa dan kelurahan di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, yang merupakan refleksi dari sejarah, geografis, dan kondisi sosial setempat. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif untuk memahami kompleksitas penamaan desa dan kelurahan di Kabupaten Lombok Tengah. Metode pengumpulan data yang digunakan meliputi wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen. Data yang telah dikumpulkan kemudian disajikan dengan metode deskripsi naratif, tabel dan grafik, serta peta tematik, yang memberikan gambaran visual dan analitis mengenai temuan penelitian. Dalam analisis data, digunakan pendekatan linguistik semiotika Roland Barthes yang memungkinkan peneliti untuk menggali makna dan simbolisme yang terkandung dalam nama-nama desa dan kelurahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penamaan desa dan kelurahan di Kabupaten Lombok Tengah dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kondisi geografis yang mencakup letak dan bentuk wilayah, lingkungan alam yang meliputi flora dan fauna setempat, serta keberadaan sumber air seperti sumur dan mata air yang penting bagi kehidupan masyarakat. Selain itu, penamaan juga dipengaruhi oleh situs bersejarah dan aspek historis yang mencerminkan peristiwa penting atau tokoh berpengaruh di masa lalu. Aspek sosial seperti struktur komunitas, hubungan antar warga, dan tradisi lokal juga berperan dalam proses penamaan. Kondisi masa lalu yang mencakup cerita-cerita rakyat dan legenda setempat turut memberikan warna dalam penamaan desa dan kelurahan. Penghormatan terhadap tokoh masyarakat dan pemimpin lokal sering kali diabadikan dalam nama-nama tempat sebagai bentuk penghargaan dan pengingat jasa mereka. Harapan masyarakat terhadap masa depan desa atau kelurahan juga tercermin dalam nama-nama yang dipilih, yang mengandung doa dan aspirasi untuk kemakmuran dan kesejahteraan. Pemahaman mendalam tentang asal-usul dan makna penamaan desa dan kelurahan dapat menimbulkan kebijakan pembangunan yang lebih inklusif dan sensitif terhadap konteks lokal. Dokumentasi dan pelestarian nama-nama tempat juga dapat menjadi aset wisata budaya yang menarik, yang pada gilirannya dapat meningkatkan potensi pariwisata dan ekonomi lokal.</p> Lukmanul Hakim Copyright (c) 2025 Lukmanul Hakim https://creativecommons.org/licenses/by-nd/4.0 https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/160 Tue, 18 Nov 2025 00:00:00 +0000 DNA SASTRA BANGSA INDONESIA DARI BARUS: PRAKTIK PERENCANAAN BAHASA TERANGKAI (JOINT LANGUAGE PLANNING) https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/161 <p>Makalah ini bertujuan untuk menawarkan jawaban alternatif dengan pendekatan eksplanatori terhadap isu krusial dalam kebijakan bahasa di Indonesia, yaitu praktik yang oleh Charlie Hanawalt (2010) disebut sebagai <em>joint language planning</em> (<em>perencanaan bahasa terangkai</em>). Pendekatan ini tercermin dalam semangat/spirit gerakan nasional-kebahasaan yang mendorong kerangka kerja perencanaan bahasa tiga dimensi: <em>trigatra bangun bahasa</em>. Kerangka ini menekankan tiga seruan: (1) <em>utamakan bahasa Indonesia</em>; (2) <em>lestarikan bahasa daerah</em>; dan (3) <em>kuasai bahasa asing</em>. Namun, dalam praktiknya, masih terdapat persoalan yang cukup mendasar. Bahasa Indonesia, yang dianggap sebagai varian dari bahasa Melayu di Selat Malaka, belum terhubung secara memadai dengan lintasan historis bahasa dan kesusastraan Melayu, khususnya yang berasal dari kota pelabuhan kuno, Barus, di Sumatra Utara. Keterputusan sejarah ini menghambat upaya untuk mendudukkan bahasa Indonesia secara fungsional baik sebagai bahasa nasional maupun internasional—terutama dalam konteks pembinaan bahasa negara dan internasionalisasi bahasa Indonesia di kawasan ASEAN. Makalah ini menawarkan jawaban alternatif dengan menghadirkan catatan historis yang didasarkan pada data kualitatif yang dikumpulkan dari sejarah lingua franca Indonesia, khususnya pada masa globalisasi purba dalam perdagangan kamper/kapur barus. Dengan menelusuri jejak linguistik dan literasi bahasa Indonesia hingga ke Barus sebagai titik balik arus dalam peradaban Nusantara (hingga abad XVI), studi ini berupaya mengungkap ‘DNA’ sastra bangsa Indonesia, sekaligus memperkuat fondasi ilmiah untuk praktik perencanaan bahasa terangkai pada masa mendatang di Indonesia.</p> Maryanto Maryanto Copyright (c) 2025 Maryanto Maryanto https://creativecommons.org/licenses/by-nd/4.0 https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/161 Tue, 18 Nov 2025 00:00:00 +0000 LINGUISTICS LANDSCAPE OF PALOPO CITY https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/162 <p>Linguistic landscape research has been carried out in various parts of the world by several researchers. However, research on linguistic landscapes in Indonesia is still limited in number. Responding to the scarcity of studies on linguistic landscapes in Indonesia, this study discusses a bit about the proportion of top-down and bottom-up signs in Palopo City and data classification based on monolingualism and bilingualism in several public places and along the main roads of Palopo City. The results of the study show that the linguistic landscape is dominated by Indonesian. English is used more often than other foreign languages. Tae’ language as the mother tongue for most people in Palopo City is rarely used.</p> Masruddin Masruddin, Muh. Ilham Nur Copyright (c) 2025 Masruddin Masruddin, Muh. Ilham Nur https://creativecommons.org/licenses/by-nd/4.0 https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/162 Tue, 18 Nov 2025 00:00:00 +0000 ANALISIS KESALAHAN FONOLOGIS PENERJEMAHAN TAKARIR DALAM FILM TILIK (2018) https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/163 <p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesalahan fonologis dalam penerjemahan takarir film pendek berjudul “Tilik”. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara menyimak film dan mencatat kesalahan fonologi yang terjadi pada penerjemahan takarir pada film tersebut. Berdasarkan hasil analisis data, terdapat 32 data kesalahan fonologis penerjemahan takarir dalam film pendek “Tilik”. Kesalahan-kesalahan tersebut terdapat pada area fonologi perubahan pelafalan fonem sebanyak 15 kesalahan, penambahan fonem sebanyak 14 kesalahan, penambahan fonem sebanyak 1 kesalahan dan area perubahan bunyi diftong menjadi fonem tunggal sebanyak 2 kesalahan<strong>. </strong>Hasil analisis dalam penelitian ini didominasi dengan jenis kesalahan perubahan pelafalan fonem dan penambahan fonem. Kesalahan fonologis yang ditemukan dalam film ini dapat diperbaiki dengan melakukan berbagai upaya, seperti memberikan pelatihan bahasa Indonesia penerjemah, memperhatikan ejaan dalam naskah, dan menggunakan teknik penyuntingan yang tepat.</p> Mazida Izzatul Azka Copyright (c) 2025 Mazida Izzatul Azka https://creativecommons.org/licenses/by-nd/4.0 https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/163 Tue, 18 Nov 2025 00:00:00 +0000 ETNOSEMANTIK LEKSIKON BUAKHAK DALAM PROSESI PERKAWINAN ADAT LAMPUNG SAIBATIN https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/164 <p>Dalam tradisi perkawinan adat Lampung Saibatin, prosesi <em>buakhak </em>atau<em> arak-arakan kebayan </em>merupakan bagian penting yang tidak terpisahkan dari rangkaian upacara <em>Nayuh </em>‘pesta perkawinan’. Istilah lain untuk menyebutkan prosesi ini, yakni <em>buakhak, akhak-akhakan, Ngakhak kebayan/maju, </em>dan<em> sussung agung</em>, menjadi fokus utama dalam penelitian ini. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan keberagaman leksem yang terkait dengan prosesi buarak serta mengungkap makna kultural yang terkandung di dalamnya. Pendekatan yang digunakan adalah etnosemantik, dengan metode penelitian deskriptif kualitatif yang bersumber dari data lapangan melalui wawancara dan dokumentasi di Desa Kenali, Kecamatan Belalau, Lampung Barat dengan tokoh adat setempat sebagai narasumber. Kerangka teori yang digunakan adalah antropolinguistik dan etnolinguistik.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi leksem yang berkaitan dengan tradisi <em>buarak </em>dapat diklasifikasikan berdasarkan (1) leksikon yang berhubungan dengan prosesi arak-arakan dan (2) leksikon yang berhubungan dengan perangkat adat yang digunakan. Makna yang terkandung dalam prosesi ini terbagi menjadi dua kategori utama, yaitu (1) makna simbolik dan (2) makna filosofis. Simbol-simbol keadatan seperti leksem <em>burak, payung agung, awan gemisikh, lalamak titi kuya, sigokh, </em>dan<em> tukkus</em> memiliki fungsi simbolis yang erat kaitannya dengan makna keadatan dalam konteks perkawinan adat Lampung Saibatin. Kehadiran simbol-simbol tersebut tidak hanya bersifat dekoratif, tetapi juga merepresentasikan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal yang menjadi bagian dari identitas masyarakat setempat. Analisis etnosemantik mengungkapkan makna filosofis yang terkandung dalam prosesi, seperti bejuluk beadok, Nengah Nyapukh, dan sakai sambayan, yang mencerminkan nilai moral dan filsafat hidup masyarakat adat Lampung. Secara simbolis, makna dapat dilihat pada siger pengantin perempuan yang berlekuk tujuh, payung agung, awan gemisikh, dan burak, yang masing-masing menyimpan makna simbolis terkait identitas gender, kedudukan sosial, dan aspirasi budaya masyarakat adat Lampung Saibatin.</p> Megaria Megaria, Cece Sobarna, Dian Indira, Farida Ariyani Copyright (c) 2025 Megaria Megaria, Cece Sobarna, Dian Indira, Farida Ariyani https://creativecommons.org/licenses/by-nd/4.0 https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/164 Tue, 18 Nov 2025 00:00:00 +0000 AN OVERVIEW OF THE CHALLENGES IN TRANSLATING MANDARIN COMPOUND SENTENCE INTO INDONESIAN AND VICE VERSA https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/165 <p>This study examines the difficulties in translating complex phrases between Mandarin and Indonesian. The primary emphasis is on the utilization of conjunctions included in HSK Level 1 to 6 resources. Compound sentences in Mandarin frequently exhibit structures and meanings that diverge from those in Indonesian, necessitating meticulous consideration of context, semantics, and colloquial language throughout the translation process. This study assessed 25 complex phrases, each including frequent conjunctions included in the HSK test. Google Translate (GT) was employed as the translation tool, as it is deemed indicative of the frequently utilized resources by learners and is recognized for generating translation outputs that are generally like to those of native speakers, especially in the context of basic sentences. The analysis identified seven categories of translation errors: (1) No Errors, (2) Misinterpretation of Conjunctions, (3) Ambiguity in Syntactic Structure, (4) Reduction of Subtlety in Significance, (5) Modification in Linguistic Style, (6) Alteration in Significance / Lexicon and&nbsp; (7) Absence of Formal/Logical Conjunctions. Each category represents distinct challenges in the language transmission process. The primary obstacles in translating Mandarin compound phrases into Indonesian are adapting formal and informal language usage, comprehending sentence structure, and properly conveying meaning in quotidian circumstances. This work significantly contributes to translation studies and serves as a resource for educators, students, and language professionals to enhance the quality of translation between the two languages.</p> Mei Rianto Chandra Copyright (c) 2025 Mei Rianto Chandra https://creativecommons.org/licenses/by-nd/4.0 https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/165 Tue, 18 Nov 2025 00:00:00 +0000 REPRESENTASI NAMA PAMOR KERIS TIBAN DI SURAKARTA: KAJIAN ETNOLINGUISTIK https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/166 <p>Dalam keris terdapat pamor yang merupakan pola gambaran yang ada pada bilah keris, terbentuk akibat adanya penyatuan atau pencampuran logam saat pembuatan keris. Fokus penelitian ini adalah makna leksikal dan makna kultural yang ada pada pamor <em>tiban</em> di Surakarta. Hal ini dikarenakan dalam setiap leksikon nama pamor keris <em>tiban</em> di Surakarta memiliki makna kultural yang berkaitan dengan makna leksikalnya dan bagi sebagian pencinta keris dianggap sebagai pesan dari Tuhan karena pamor tersebut terjadi tanpa direncanakan oleh empu keris. Tujuan dari penelitian ini adalah menjelaskan mengenai makna leksikal dan makna kultural dalam nama pamor-pamor keris <em>tiban</em> di Surakarta yang merepresentasikan nilai-nilai kultural yang dipercaya oleh para pencinta keris. Teori yang digunakan adalah teori Antropologi Linguistik menurut Duranti. Adapun metode yang digunakan adalah observasi dan wawancara dengan teknik rekam, teknik catat, dan teknik pustaka. Metode analisis data yang digunakan adalah metode agih dengan teknik bagi unsur langsung (BUL). Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif untuk menjelaskan data dengan kata-kata berdasarkan temuan. Terdapat dua jenis data yang digunakan yaitu data tertulis dan data lisan. Data tertulis diperoleh melalui sumber tertulis dari literatur-literatur sedangkan data lisan diperoleh melalui wawancara langsung dengan para informan yang ahli di bidang perkerisan. Hasil dari penelitian ini adalah dalam setiap nama pamor-pamor keris <em>tiban</em> memiliki tuah atau pengharapan yang dipercaya oleh para pencinta keris atau pemiliknya. Tuah atau pengharapan tersebut berkaitan dengan makna leksikal serta merepresentasikan nilai-nilai kultural yang ada di kehidupan masyarakat.</p> Miftah Nugroho, Aulia Ramadhanti Copyright (c) 2025 Miftah Nugroho, Aulia Ramadhanti https://creativecommons.org/licenses/by-nd/4.0 https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/166 Tue, 18 Nov 2025 00:00:00 +0000 PRAKTIK GREENWASHING IKLAN AMDK DI INDONESIA https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/167 <p>Perkembangan industri semakin membuka mata konsumen dalam memilih produk yang mengandung kepedulian lingkungan berkelanjutan. Produk air mineral dalam kemasan (AMDK) tampak berlomba-lomba menggunakan slogan iklan ramah lingkungan. Alhasil promosi produk AMDK manipulatif dan mengarah pada praktik <em>greenwashing.</em> Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana perusahaan air minum dalam kemasan di Indonesia mengemas isu ramah lingkungan yang dilihat dari sudut pandang narasi iklan. Data diambil dari lima merek air minum dalam kemasan dengan nominasi Top Brand Award 2024. Metode kualitatif digunakan untuk menganalisis data dan mendeskripsikan data slogan iklan. Kerangka teoretis metafora Lakoff &amp; Johnson (1980) digunakan untuk merekonstruksi unsur-unsur bahasa iklan AMDK ramah lingkungan. Penelitian ini mengemukakan fakta bahwa satuan kebahasaan dalam iklan AMDK berupa <em>alam, alami, murni, kemurnian, mineral, gunung-gunung, pegunungan, pelindung, terlindungi</em> mengarah pada aspek-aspek makna lingkungan. Namun, pemanfaatan satuan kebahasaan tersebut tidak sejalan dengan konteks fenomena produksi AMDK. Penelusuran konteks melalui aspek pemberitaan media,<em> green label, </em>dan <em>sustainability report</em> perusahaan menunjukkan sebaliknya, yakni ketidakpedulian lingkungan secara berkelanjutan. Bahasa iklan yang <em>blurring </em>makna tampak semakin mendukung pola <em>greenwashing</em> dalam kompetisi industri produk AMDK.</p> Muhimatul Khoiriyah, Harum Munazharoh Copyright (c) 2025 Muhimatul Khoiriyah, Harum Munazharoh https://creativecommons.org/licenses/by-nd/4.0 https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/167 Tue, 18 Nov 2025 00:00:00 +0000 DINAMIKA VARIASI BAHASA GAUL DI MEDIA SOSIAL DARI ERA GENERASI Y HINGGA GENERASI Z https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/168 <p>Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi perbedaan bentuk, fungsi, dan mendeskripsikan penggunaan bahasa gaul (slang) pada kalangan anak muda di media sosial antara dua generasi yaitu Gen Y dan Gen Z.&nbsp;&nbsp;Metode penelitian ini adalah kualitatif deskripstif dengan pendekatan sosiolinguistik.&nbsp; Adapun data penelitian diambil dari penggunaan bahasa Gen Y dan Z pada tahun 2012- hingga 2025&nbsp;di media sosial yaitu SMS, Facebook,&nbsp;TikTok, Instagram, dan Twitter. Teknik pengumpulan data dengan teknik baca dan catat, serta dengan wawancara informan dari Gen Y dan Gen Z. Hasil penelitian ditemukan penggunaan bahasa gaul pada Gen Y dipengarui oleh awal muncul internet dan media sosial. Pengaruh budaya popular dari&nbsp; Barat seperti film, musik, dan serial TV. Pembentukannya cenderung menggunakan kata yang berakar pada budaya lokal dan biasa digunakan dalam interaksi langsung atau media sosial dengan komunitas sedikit. Hal inilah yang menyebabkan bahasa gaul di era Gen Y bertahan lebih lama. Bahasa gaul di era Gen Z berkembang cepat karena pengaruh media sosial yang menampilkan konten visual dengan meme dalam berkomunikasi. Selain itu, jangkauan internet dan perangkat lebih luas dan mudah, hampir seluruh remaja Gen Z mempunyai media sosial sehingga penyampaian kosa kata baru lebih cepat tersebar. Adapun pola penciptaan kosa kata baru di era Gen Y bentuk abreviasi dan bentuk kata didominasi menggunakan bahasa Indonesia dan dialek Jakarta, sedangkan Gen Z lebih variatif abrviasi dan kosakata yang digunakan didominasi dari bahasa Inggris bahkan berbasis fonetik dari bahasa asing atau budaya asing termasuk dari animasi, <em>Korean Pop</em> (K-Pop) ‘musik pop korea’ atau dtama korea, dan tren viral internet. Ditemukan pula antargenerasi mengalami perubahan bentuk kata yang bersinonim dan juga persgeseran makna. Contoh kosa kata bahasa gaul di era Gen Y, misalnya penyebutan teman dekat disebut sohib atau bro (brother), untuk saat ini Gen Z mengubahnya menjadi bestie. Adapun contoh pergeseran makna dapat pada kata <em>ember</em>, pada era Gen Y berarti memang benar, pada era Gen Z dimaknai sebagai orang yang tidak dapat dipercaya.</p> Munariswati Munariswati Copyright (c) 2025 Munariswati Munariswati https://creativecommons.org/licenses/by-nd/4.0 https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/168 Tue, 18 Nov 2025 00:00:00 +0000 UNGKAPAN-UNGKAPAN PEMALI DALAM INTERAKSI SOSIAL BUDAYA DAN PENGARUHNYA BAGI MASYARAKAT DI ERA GLOBAL https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/169 <p>Ungkapan pemali merupakan bagian penting dari kearifan lokal yang mencerminkan nilai-nilai budaya dan norma sosial masyarakat. Dalam konteks era global, ungkapan-ungkapan ini mengalami tantangan akibat modernisasi dan globalisasi yang memengaruhi pola pikir dan perilaku masyarakat, khususnya generasi muda. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk, fungsi, dan makna ungkapan pemali dalam interaksi sosial budaya serta pengaruhnya terhadap masyarakat di era global. Pendekatan yang digunakan adalah sosiolinguistik dan budaya, dengan metode kualitatif deskriptif. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan tokoh masyarakat, observasi langsung terhadap interaksi sosial, serta analisis kajian literatur. Wawancara dilakukan pada tokoh adat dan generasi muda di beberapa wilayah Indonesia untuk menggali persepsi dan pemahaman mereka tentang ungkapan pemali. Observasi melibatkan pengamatan interaksi sosial di ruang publik dan media sosial untuk mengidentifikasi penggunaan aktual ungkapan pemali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ungkapan pemali memiliki fungsi sosial yang penting, seperti menjaga harmoni dalam hubungan antarindividu, menyampaikan nilai-nilai moral, dan memperkuat identitas budaya. Namun, pengaruh budaya global menyebabkan perubahan dalam pemahaman dan penggunaan ungkapan pemali, termasuk pergeseran makna dan pengabaian pada generasi muda. Penelitian ini juga menemukan bahwa ungkapan pemali cenderung lebih terpelihara di komunitas tradisional dibandingkan dengan masyarakat perkotaan. Untuk melestarikan warisan budaya ini, diperlukan langkah strategis, seperti integrasi&nbsp; dalam kurikulum pendidikan, pemanfaatan teknologi digital untuk dokumentasi, dan promosi melalui media sosial. Kolaborasi antara komunitas budaya dan pemerintah menjadi kunci dalam upaya pelestarian ini. Dengan demikian, ungkapan pemali dapat terus berkontribusi sebagai bagian integral dari identitas budaya di tengah arus globalisasi.</p> Munira Hasjim Copyright (c) 2025 Munira Hasjim https://creativecommons.org/licenses/by-nd/4.0 https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/169 Tue, 18 Nov 2025 00:00:00 +0000 ANALISIS PERKEMBANGAN FONOLOGI ANAK USIA DINI DENGAN METODE BERCERITA https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/170 <p>Perkembangan fonologi merupakan aspek krusial dalam pemerolehan bahasa anak usia dini yang berkaitan erat dengan kemampuan komunikasi verbal, kesadaran fonemik, serta kesiapan membaca dan menulis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam perkembangan fonologi anak usia 5-6 tahun di Taman Kanak-kanak Aisyiyah 1 Baranti, Kabupaten Sidenreng Rappang melalui pemberian stimulus berupa penerapan metode bercerita sebanyak enam kali dalam kurun waktu dua bulan. &nbsp;Setiap stimulus menggunakan metode bercerita yang bervariasi dan tematis, antara lain dengan membacakan cerita langsung, menggunakan ilustrasi bergambar, boneka atau alat peraga, dongeng keseharian, dramatisasi film kesukaan, dan cerita tentang rutinitas anak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik observasi langsung, wawancara, dan dokumentasi sebagai metode pengumpulan data. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perkembangan yang signifikan pada struktur suku kata dan kemampuan produksi bunyi anak. Pada stimulus pertama, anak umumnya menguasai struktur sederhana seperti V, KV, dan KVK, dengan produksi bunyi masih terbatas pada fonem dasar dan banyak ditemukan kesalahan fonologis seperti elisi dan substitusi. Namun pada stimulus keempat hingga keenam, anak mulai mampu mengucapkan kata dengan struktur suku kata kompleks seperti KVKK, KKVK, bahkan kombinasi multisuku seperti “berkeliling-keliling”, serta menghasilkan fonem kompleks termasuk diftong /ai/, /au/, dan gugus konsonan seperti /pr/, /mp/, dan /ngk/. Kesalahan produksi bunyi menurun drastis, dari elisi bunyi awal seperti “pohon” menjadi “poon”, hingga pada stimulus keenam tidak lagi ditemukan kesalahan berarti. Perkembangan fonologi juga tampak pada meningkatnya kejelasan artikulasi, kelancaran penggabungan bunyi, serta kemampuan anak dalam menyusun narasi sederhana secara ekspresif. Stimulasi yang konsisten melalui metode bercerita tidak hanya membangun keterampilan fonologis, tetapi juga memperluas kosakata dan membentuk kepercayaan diri anak dalam berkomunikasi. Penelitian ini merekomendasikan penerapan metode bercerita secara terencana dan bervariasi dalam kegiatan pembelajaran anak usia dini, dengan dukungan peran aktif pendidik dan lingkungan yang komunikatif. Dengan pendekatan yang konsisten dan dukungan berbagai pihak, metode bercerita berpotensi menjadi strategi yang efektif dalam mendukung perkembangan bahasa anak sejak dini.</p> Nur Fitria Desiani, Nuraini Kasman, Jumiati Jumiati, Yusmah Yusmah Copyright (c) 2025 Nur Fitria Desiani, Nuraini Kasman, Jumiati Jumiati, Yusmah Yusmah https://creativecommons.org/licenses/by-nd/4.0 https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/170 Tue, 18 Nov 2025 00:00:00 +0000 UNGKAPAN TABU SEBAGAI PENJAGA HARMONI DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT ADAT DI KASEPUHAN CIPTAMULYA (Studi Linguistik Antropologi) https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/171 <p>Penelitian ini mengkaji ungkapan tabu dan maknanya bagi masyarakat adat Ciptamulya. Fokus penelitian ini adalah mendeskripsikan ungkapan tabu yang dijadikan pedoman hidup guna menjaga harmoni masyarakat dan alam sekitar di sana. Ungkapan pamali atau tabu dilaksanakan secara aktif oleh masyarakat adat Kasepuhan Ciptamulya karena menyangkut aturan hidup yang diwariskan oleh nenek moyang mereka secara turun menurun melalui bahasa lisan. Akan tetapi, walaupun hanya berupa ajaran atau aturan lisan, seluruh anggota masyarakat melaksanakan dengan baik dan sungguh-sungguh. Bahkan mereka sangat takut untuk melanggar aturan tersebut. Secara umum, ungkapan tabu yang berlaku di masyarakat adat Kasepuhan Ciptamulya terbagi ke dalam lima kategori besar, yaitu a) ungkapan tabu dalam bidang pertanian, b) ungkapan tabu dalam kehidupan bermasyarakat, c) ungkapan tabu untuk laki-laki, d) ungkapan tabu untuk perempuan, dan e) ungkapan tabu untuk anak-anak. Berdasarkan temuan hasil penelitian, ungkapan tabu yang berkaitan dengan pengelolaan lahan pertanian memiliki 25 ungkapan, 13 ungkapan tabu yang berkaitan dengan aturan hidup bermasyarakat, 3ungkapan tabu yang berkaitan dengan laki-laki, 7 ungkapan tabu yang berkaitan denganperempuan, dan 5 ungkapan tabu yang berkaitan dengan anak-anak. Temuan-temuan ungkapan tabu tersebut penulis peroleh pada saat berdiskusi dengan sumber data ketika berinteraksi langsung di rumah atau di lingkungan sekitar Kasepuhan Ciptamulya. Artikel ini merupakan hasil penelitian lapangan dengan metode studi kasus yang bersifat kualitatif dengan pendekatan etnografis. Metode yang digunakan adalah mengajukan pertanyaan, mengumpulkan data yang dilakukan dengan cara observasi partisipan dan wawancara, serta membuat suatu rekaman etnografi.</p> Nurafifah Nurafifah Copyright (c) 2025 Nurafifah Nurafifah https://creativecommons.org/licenses/by-nd/4.0 https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/171 Tue, 18 Nov 2025 00:00:00 +0000 BAHASA DAN POLITIK DALAM WACANA GLOBAL: ANALISIS KRITIS TERHADAP FRAMING, RETORIKA, DAN KEKUASAAN https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/172 <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara bahasa dan politik serta pengaruh keduanya dalam membentuk opini publik, identitas politik, dan kebijakan politik. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan analisis wacana kritis (CDA) sebagai metode utama, penelitian ini mendalami penggunaan bahasa dalam politik melalui studi kasus di tiga negara dengan konteks politik yang berbeda: Amerika Serikat, Indonesia, dan Uni Eropa. Fokus utama penelitian ini meliputi teknik framing, retorika politik, serta peran kekuasaan dalam bahasa. Teknik framing digunakan oleh politisi dan media untuk memengaruhi persepsi publik terhadap isu-isu politik yang penting, seperti ekonomi, keamanan, dan kebijakan sosial. Melalui framing ini, persepsi masyarakat terhadap masalah tertentu dapat dibentuk sedemikian rupa, sehingga menciptakan sudut pandang yang mendukung atau menentang kebijakan tertentu secara strategis. Selain itu, retorika politik, yang sering kali melibatkan penggunaan metafora, simbol, dan narasi emosional, berperan besar dalam membangun identitas politik, memperkuat solidaritas nasional, dan membentuk konsensus sosial. Di banyak negara, termasuk yang berpotensi otoriter, bahasa digunakan sebagai alat untuk memperkuat kekuasaan dan mengontrol narasi politik dengan mendominasi media dan ruang publik. Penelitian ini juga menyoroti peran penting media sosial, yang dalam beberapa tahun terakhir telah menjadi arena utama dalam pembentukan opini publik. Di platform digital, bahasa yang digunakan cenderung lebih informal, langsung, dan lebih cepat dalam menyebarkan pesan politik, sehingga memudahkan mobilisasi massa dan penyebaran ideologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa politik bukan sekadar alat komunikasi, melainkan strategi untuk membentuk identitas kolektif, memobilisasi dukungan politik, dan memperkuat struktur kekuasaan. Penelitian ini memberikan wawasan yang lebih mendalam mengenai dinamika wacana politik global, terutama yang berkaitan dengan isu identitas nasional, imigrasi, dan kebijakan ekonomi.</p> Nuraini Kasman, Muh. Hanafi Muh. Hanafi, Aswadi Aswadi, Rosmini Kasman Copyright (c) 2025 Nuraini Kasman, Muh. Hanafi Muh. Hanafi, Aswadi Aswadi, Rosmini Kasman https://creativecommons.org/licenses/by-nd/4.0 https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/172 Tue, 18 Nov 2025 00:00:00 +0000 BAHASA UMPATAN MAHASISWA DEPARTEMEN SASTRA INDONESIA FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR: KAJIAN SOSIOLINGUISTIK https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/173 <p>Penelitian ini berjudul Bahasa Umpatan Mahasiswa Departemen Sastra Indonesia Universitas Hasanuddin: Kajian Sosiolinguistik. Tujuan penelitian menganalisis bentuk-bentuk bahasa umpatan dan faktor-faktor yang memengaru penggunaan bahasa umpatan mahasiswa Departemen Sastra Indonesia Universitas Hasanuddin. Metode pengumpulan data yang digunakan adalak metode simak dengan teknik catat dan rekam. Analisis data secara deskriptif. Hasil penelitian enunjukkan bahwa bentuk-bentuk bahasa umpatan mahasiswa Departemen sastra Indonesia adalah: bebrtuk umapatan binatang, berbentuk binatang, anggota tubuh, ancaman, bahasa Makassar, dan merendahkan. Adapun faktor-faktor yang memengaruhi penggunaan bahasa umpatan kalangan mahasiswa Departemen Sastra Indonesia Universitas Hasanuddin adalah: faktor budaya, faktor emosi, pergaulan, lingkungan dan pergaulan, kurang sosialisasi, dan media dan lingkungan.</p> Nurhayati Nurhayati Copyright (c) 2025 Nurhayati Nurhayati https://creativecommons.org/licenses/by-nd/4.0 https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/173 Tue, 18 Nov 2025 00:00:00 +0000 REGISTER KECANTIKAN PADA AKUN INSTAGRAM INDONESIAN BEAUTY VLOGGER COMMUNITY (IBV) https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/174 <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bentuk dan fungsi register yang digunakan dalam akun Instagram <em>Indonesian Beauty Vlogger Community (IBV)</em>. Menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, data diperoleh dari kutipan video dan caption unggahan di akun @indobeautygram. Analisis dilakukan berdasarkan teori Martin Joos (1967) tentang jenis register dan Halliday (1994) mengenai fungsi register. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk lingual yang dominan adalah nomina (51,72%), diikuti adjektiva (27,59%), verba (17,24%), dan interjeksi (3,45%). Jenis register paling banyak adalah register santai (12 data), disusul register formal (10 data), intim (5 data), usaha (3 data), dan beku (2 data). Dari segi fungsi, register instrumental paling sering digunakan (14 data), kemudian representasi (13 data), regulasi (4 data), dan heuristik (1 data). Hasil ini mencerminkan gaya komunikasi khas komunitas digital kecantikan yang ekspresif, dinamis, dan dipengaruhi oleh budaya populer global.</p> Putri Mentari, Abdurrahman Malik Fajar Copyright (c) 2025 Putri Mentari, Abdurrahman Malik Fajar https://creativecommons.org/licenses/by-nd/4.0 https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/174 Tue, 18 Nov 2025 00:00:00 +0000 PENAMAAN PERSIAPAN PERNIKAHAN PADA BUDAYA JAWA DAN TIONGHOA DALAM FILM “BU TEJO SOWAN KE JAKARTA” https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/175 <p>This study aims to describe the naming and cultural meanings in Chinese wedding preparations including certain objects in “sangjit” and “tingjing”, the prohibitions in Chinese culture, as well as in Javanese culture including advice, hopes, and wedding-related prohibitions. The naming of objects in the “sangjit" and "tingjing" procession and the cultural meanings in Chinese culture are covered in this study. Furthermore, this study discusses the wedding-related prohibitions in Chinese culture and their cultural meanings. In addition, this study also discusses advice, hopes, and prohibitions in Javanese weddings along with the cultural meaning therein. Prior studies have not examined the naming of wedding preparations in Chinese-Javanese mixed marriages. Research data were presented in the form of dialogue between characters. Ten data were presented in this study, consisting of 3 data on wedding preparations in Chinese culture and 7 data on wedding preparations in Javanese culture. The method used in this study was qualitative descriptive, specifically using interview, listening, note-taking, and literature study techniques. Interviews were conducted with a man and a woman of native Chinese descent who had participated in the "sangjit" and "tingjing" processions to find the terms of wedding preparations in Chinese culture. The listening technique was used to listen to the dialogue between characters in the film "Bu Tejo Sowan Ke Jakarta" and the note-taking technique was used to record the characters’ utterances in the film "Bu Tejo Sowan Ke Jakarta" which were grouped into the naming of wedding preparations in Javanese and Chinese culture. Meanwhile, the literature study technique was used to answer the formulation of problems regarding the naming of wedding preparations in Javanese culture.</p> Rafida Salsabila Aziz Copyright (c) 2025 Rafida Salsabila Aziz https://creativecommons.org/licenses/by-nd/4.0 https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/175 Tue, 18 Nov 2025 00:00:00 +0000 KAJIAN ANTROPOLINGUISTIK FRASA NOMINA DALAM BAHASA NIAS https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/176 <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna leksikal dan makna kultural dari beberapa frasa nomina yang unik dalam bahasa Nias. Beberapa Frasa nomina yang unik tersebut adalah: <em>gowi baladra</em> yang artinya kentang,&nbsp; <em>manu australi</em> yaitu ayam jenis Australia yang berbeda dengan jenis ayam yang ada di Pulau Nias, <em>te’u Baladra</em> artinys kelinci <em>lada Nipo</em> adalah jenis cabai rawit yang sangat pedas rasanya. Frasa nomina diatas unik karena tiap nomina diikuti oleh kata yang mengacu pada sebuah negara yaitu Belanda (<em>Baladra</em>), Australia (<em>Australi</em>), Jepang (<em>Nipo</em>). Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan ilmu antropolingustik yaitu ilmu yang mengkaitkan budaya dengan bahasa. Peneliti melakukan wawancara dan observasi sebagai tehnik yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data penelitian. Tehnik analisis data yang digunakan oleh peneliti&nbsp; yaitu meliputi beberapa langkah yaitu terdiri dari 3 langkah, langkah 1:&nbsp; mengorganisir data, langkah 2:&nbsp; menyimpulkan data, dan langkah 3: menginterpretasikan data. Hasil dari penelitian ini yaitu bahwa kata <em>Baladra</em>, <em>Australi</em> dan <em>Nipo</em> diletakkan setelah kata benda dalam bahasa Nias dalam hal ini adalah&nbsp; makanan dan hewan. Makanan dan hewan tersebut semuanya itu bukanlah asli dari Pulau Nias tapi didatangkan dari luar Nias. Orang-orang yang mendatangkannya adalah orang-orang dari Belanda maupun Jepang pada masa kolonial. Meskipun berdasarkan sejarahnya masa kolonial telah berlalu namun hingga hari ini frasa nomina tersebut tetaplah digunakan baik secara lisan maupun tulisan. Saran yang dapat diberikan oleh peneliti bahwa frasa nomina tersebut adalah unik dan merupakan kearifan lokal dalam bahasa Nias. Namun yang paling penting makna leksikal dan makna budaya dari frasa nomina tersebut tetaplah dilestarikan sebagai salah satu identitas bahasa Nias.</p> Rebecca Evelyn Laiya, Martiman Su’aizisiwa Sarumaha Copyright (c) 2025 Rebecca Evelyn Laiya, Martiman Su’aizisiwa Sarumaha https://creativecommons.org/licenses/by-nd/4.0 https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/176 Tue, 18 Nov 2025 00:00:00 +0000 UJARAN KEBENCIAN TERHADAP PEMENGARUH INDONESIA MELALUI PESAN LANGSUNG INSTAGRAM https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/177 <p>Di masa kini, media sosial dimanfaatkan sebagai lapangan pekerjaan. Dengan adanya citra diri dan jumlah <em>engagement</em> (tolak ukur) yang tinggi, seseorang dapat menjadi pemengaruh. Selain mendapat dukungan dan pujian dari masyarakat, beberapa pemengaruh juga mendapat penolakan dan ujaran kebencian. Ujaran kebencian ini dirasakan oleh beberapa pemengaruh di Indonesia. Kasus ini dapat ditelaah lebih dalam dengan ilmu linguistik. Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana ujaran kebencian terhadap pemengaruh Indonesia melalui pesan langsung (<em>direct message</em>) Instagram jika diteliti secara semantik dan pragmatik. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif. Hasil penelitian ini adalah (1) penutur menggunakan konteks linguistik yang lebih sedikit daripada konteks nonlinguistik, (2) penutur menggunakan kata makian yang memiliki makna asosiatif, dan (3) jenis tindak tutur yang digunakan adalah lokusi dalam bentuk pernyataan, pertanyaan, dan perintah; ilokusi pada kategori asertif, direktif, komisif, dan ekspresif; dan perlokusi dalam bentuk meyakinkan, membujuk, menghasut, dan menyesatkan.</p> Regita Yuanita Setyohardjo, Nitrasattri Handayani Copyright (c) 2025 Regita Yuanita Setyohardjo, Nitrasattri Handayani https://creativecommons.org/licenses/by-nd/4.0 https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/177 Tue, 18 Nov 2025 00:00:00 +0000 THE USE OF ENGLISH IN SOCIAL MEDIA FOR THE PRESERVATION OF LOCAL CULTURE AND WISDOM IN INDONESIA https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/178 <p>This study aims to analyse the role of English language in social media in supporting the preservation of local culture and wisdom in Indonesia. English, which serves as a global communication tool, is a strategic means for Indonesian people to promote local culture in the international arena. However, the use of English in the context of local culture also presents challenges, such as the risk of cultural homogenization and the decline in the use of regional languages. This study used a qualitative approach with a survey method for social media users, especially the younger generation. The survey was conducted to understand the motivations, perceptions, and impacts on cultural awareness for the younger generation towards the use of English for cultural preservation. There were 108 respondents who were the younger generation involved in this study. The results of the study indicate that the use of English in social media can be an effective tool to introduce local culture to a global audience. Posts that use English tend to be more accessible and understood by the international community, thus increasing the opportunity for promoting local culture. However, this study also found that the success of cultural promotion through English is highly dependent on how local cultural elements are represented authentically and consistently. In addition, there is an urgent need to ensure that the use of English does not replace regional languages, but rather supports the revitalization of local languages ??through a collaborative approach. This study concludes that the use of English on social media has great potential in preserving local culture and wisdom in Indonesia if carried out with the right strategy. Policy recommendations and media strategies are also formulated to maximize the positive impact of this phenomenon.</p> Reza Pustika, Doni Alfaruqy, Anjar Nur Cholifah, Sunarsih Sunarsih, Tefur Nur Rohman Copyright (c) 2025 Reza Pustika, Doni Alfaruqy, Anjar Nur Cholifah, Sunarsih Sunarsih, Tefur Nur Rohman https://creativecommons.org/licenses/by-nd/4.0 https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/178 Tue, 18 Nov 2025 00:00:00 +0000 POLA PENAMAAN DESA DI PULAU SAMOSIR: KAJIAN TOPONIMI https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/179 <p>Pulau Samosir merupakan sebuah pulau yang berada di tengah Danau Toba, Sumatera Utara. Pulau ini merupakan bagian dari Kabupaten Samosir dan secara administratif diapit oleh tujuh kabupaten dengan beragam subetnis, seperti: Simalungun, Karo, Dairi dan Toba. Hal ini menjadikan Pulau Samosir sebagai tempat akulturasi beragam etnis Batak. Selain itu, beberapa sumber literatur menyebutkan bahwa Samosir merupakan tempat asal lahirnya etnis Batak dengan Si Raja Batak sebagai leluhurnya. Keturunan Si Raja Batak lalu menyebar di sekitar pulau Samosir, mendirikan perkampungan dengan nama mereka, namun pada perkembangannya, penamaan ini mengalami dinamika dan perubahan. Secara historis, dulunya Pulau Samosir dianggap sebagai dunia tertutup karena letak geografisnya, setelah terjadi kolonialisasi menjadi daerah dengan beragam etnis dan agama. Keragaman ini ternyata juga memberi pengaruh pada penamaan tempat di sana. Selain itu, terdapat perkembangan nama-nama desa setelah dilakukan pemekaran wilayah pada tahun 2004. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pola toponimi desa-desa yang ada di Pulau Samosir, dengan fokus pada aspek linguistik dan latar belakang penamaan desa-desa tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan dari situs resmi pemerintah Kabupaten Samosir, dan penelusuran pustaka. Data dianalisis menggunakan morfosemantik untuk mengetahui makna dan pembentukan kata dari nama-nama desa di Pulau Samosir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nama-nama desa terdiri dari prefiks <em>si-</em> dan prefiks <em>par-</em>, nama desa yang merupakan nama marga, dan nama desa berdasarkan struktur dan sistem politik suku Batak (<em>huta, lumban</em>, dan <em>sosor</em>)<em>.</em> Dalam hal kategori toponimi, latar belakang penamaan desa-desa di Pulau Samosir didasarkan pada tindakan sosial, keadaan dan proses (orang, kelompok dan afiliasi), dunia dan lingkungan (aspek alam semesta dan geografis), serta nama dan kata fungsi.&nbsp;</p> Riris Mutiara Paulina Simamora Copyright (c) 2025 Riris Mutiara Paulina Simamora https://creativecommons.org/licenses/by-nd/4.0 https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/179 Tue, 18 Nov 2025 00:00:00 +0000 STRATEGI PENERJEMAHAN DAN ASPEK LINGUISTIK DALAM CERITA ANAK BERBAHASA SASAK DAN TERJEMAHANNYA DALAM BAHASA INDONESIA https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/180 <p>Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan korelasi metode penerjemahan dengan aspek linguistik. Secara tidak langsung kedua hal tersebut menjadi hal yang penting dalam mewujudkan pelindungan bahasa daerah. Pelindungan bahasa daerah berupa perwujudan produk-produk literasi menjadi salah satu program utama Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dan dilaksanakan secara merata di seluruh balai dan kantor yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia. Target ratusan buku literasi berupa cerita anak berbahasa daerah dan terjemahannya pun masif disusun. Namun, dalam pengaplikasiannya, terjemahan yang dihasilkan menunjukkan pola penerjemahan yang kurang konsisten dengan penerapan aspek linguistik yang perlu ditelaah ulang. Metode penelitian yang diterapkan adalah kualitatif deskriptif. Sumber data berupa 10 cerita terjemahan dari bahasa Sasak ke bahasa Indonesia yang telah diterbitkan oleh Kantor Bahasa Provinsi NTB pada tahun 2023 akan diteliti untuk mendapatkan gambaran kualitas terjemahan. Cerita yang dihasilkan oleh penulis-penulis lokal dari Lombok rata-rata menjelaskan keberagaman budaya yang ada di Lombok. Melalui metode penelitian tersebut, tulisan ini memaparkan kualitas terjemahan cerita anak hasil sayembara yang dilihat berdasarkan keakuratan, keberterimaan, dan keterbacaan. Hasil penelitian menunjukkan fakta bahwa hampir dari semua penerjemah menggunakan teknik transposisi, strategi sinonim, dan metode harfiah. Melihat hasil analisis berdasarkan tiga komponen tersebut cukup relevan terjadi dikarenakan tema dari cerita anak yang diambil rata-rata bermuara pada kebudayaan lokal yang memungkinkan penerjemah melakukan penerjemahan seperti itu. Analisis terhadap teknik, strategi, dan metode penerjemahan ini berdampak langsung pada penggambaran pola penerjemahan dan kualitas terjemahan. Berdasarkan 10 cerita anak yang diteliti terlihat bahwa standardisasi bahasa Sasak, khususnya dalam fonologi belum sepenuhnya dimengerti oleh seluruh penulis cerita. Perbedaan fonem /q/ dan /k/ yang tampak pada cerita bahasa sumber nyatanya tidak menjadi kendala bermakna dalam pencarian terjemahan katanya dalam bahasa Indonesia. Hal ini dikarenakan bentuk homonim atau homograf dalam bahasa Sasak tidak terlalu banyak. Selain itu, terjemahan cerita menunjukkan dilema antara pemilihan kata yang baku atau kata yang dimengerti oleh anak-anak sesuai jenjang bacaannya.</p> Rizki Gayatri, Siti Rahajeng NH Copyright (c) 2025 Rizki Gayatri, Siti Rahajeng NH https://creativecommons.org/licenses/by-nd/4.0 https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/180 Tue, 18 Nov 2025 00:00:00 +0000 LANSKAP LINGUISTIK DALAM KAWASAN BATIK PAOMAN DERMAYON DI KABUPATEN INDRAMAYU https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/182 <p>Lanskap linguistik merupakan penggunaan bahasa sebagai penanda identitas yang terjadi di dalam masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fungsi, bentuk, dan fenomena lanskap linguistik yang terdapat di kawasan Batik Paoman Dermayon sebagai sentra batik paling terkenal di Kabupaten Indramayu dengan memanfaatkan bahasa sebagai alat untuk memperluas jangkauan pasar. Penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif mengenai lanskap linguistik dengan fokus pada variasi bahasa yang muncul di kawasan Batik Paoman Dermayon. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi dan analisis dokumen. Adapun data yang dikumpulkan berupa kata, frasa, dan kalimat yang terdapat dalam kawasan Batik Paoman Dermayon seperti pada iklan, papan toko, label produk, nama jalan, dan grafiti. Analisis data dilakukan melalui tahapan pengumpulan data reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil analisis, ditemukan bahwa LL di kawasan Batik Paoman Dermayon terdapat pada bentuk monolingual sebanyak tujuh dalam bahasa Indonesia-Arab-Belanda, sedangkan bilingual sebanyak lima kali dalam bahasa Indonesia-Inggris, dan monolingual sebanyak tiga dalam bahasa Indonesia-Jawa-Inggris. Temuan ini menunjukkan dominasi penggunaan bahasa asing belum tuntas di kawasan Batik Paoman Dermayon. Fenomena LL menunjukkan bahwa bahasa dapat mewakili identitas masyarakat, kekayaan budaya, dan mencerminkan dinamika sosial yang berlangsung di kawasan Batik Paoman Dermayon.</p> Ryega Daud Ibrahim, Ani Rakhmawati Copyright (c) 2025 Ryega Daud Ibrahim, Ani Rakhmawati https://creativecommons.org/licenses/by-nd/4.0 https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/182 Tue, 18 Nov 2025 00:00:00 +0000 IMPLEMENTASI BAHASA INKLUSIF GENDER DALAM BAHASA JERMAN DAN BAHASA INDONESIA https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/183 <p>Dewasa ini, muncul fenomena bahasa inklusif gender (<em>gender inclusive language</em>) atau bahasa yang berkeadilan terhadap gender (<em>gender fair language</em>) dalam berbagai bahasa di dunia. Tujuan dari inisiatif ini adalah agar tercipta bahasa yang inklusif dan egalitarian, yang mampu merepresentasikan semua lapisan di dalam masyarakat, beserta kemampuan dan keberhasilannya. Makalah ini menyoroti bagaimana implementasi bahasa inklusif gender dalam bahasa Jerman, dan potensi implementasi serta tantangan bahasa inklusif gender dalam konteks Indonesia.&nbsp;Bahasa Jerman sendiri memiliki sistem gender (<em>Genus</em>) dalam kata bendanya, misalnya <em>der Student</em> (mahasiswa laki-laki), dan <em>die Studentin</em> (mahasiswa perempuan), sementara bahasa Indonesia tidak (<em>genderless</em>). Sebagian kalangan feminis Jerman menggolongkan bahasa Jerman sebagai bahasa yang seksis. Menurut mereka, kaum perempuan seolah-olah dimarjinalisasikan dari pembicaraan karena dalam bentuk jamak, bentuk kata benda maskulin dapat digunakan baik untuk perempuan maupun laki-laki. Sebagai dampak dari timbulnya kesadaran tentang kesetaraan perempuan, belakangan ini terjadi perubahan penulisan kata benda (<em>gendern</em>) dalam bahasa Jerman, yang tidak lepas dari kontroversi. Dengan menggunakan ancangan kualitatif berdasarkan kajian pustaka, makalah ini mengeksplorasi bagaimana bahasa inklusif gender diterima oleh masyarakat Jerman. Sebagai pondasi, digunakan kerangka teoretis dari Edwards (2009) dan Mooney&amp;Evans (2023) tentang bahasa dan gender. Hasil dari penelusuran menunjukkan bahwa meskipun sebagian masyarakat Jerman berpendapat bahwa kebijakan ini menimbulkan ’kerepotan‘, namun secara umum, inisiatif ini dapat diterima dan memiliki dampak yang positif, terutama di bidang pekerjaan.&nbsp;Dalam konteks Indonesia, bahasa inklusif gender masih dalam tahap perkembangan. Belum terlihat bagaimana bahasa inklusif gender ini direalisasikan dalam bahasa Indonesia, namun sudah teridentifikasi bidang-bidang yang dapat mendorong kesetaraan gender, yaitu dalam bidang pendidikan melalui multimodalitas dalam buku ajar, dan bidang leksikografi melalui revisi lema, makna, contoh kalimat dalam KBBI yang masih bernuansa seksis. Rekomendasi-rekomendasi tersebut perlu didukung oleh perencanaan dan politik bahasa yang matang dan kritis pada isu-isu sosial.</p> Sonya Puspasari Suganda Copyright (c) 2025 Sonya Puspasari Suganda https://creativecommons.org/licenses/by-nd/4.0 https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/183 Tue, 18 Nov 2025 00:00:00 +0000 TIPOLOGI KUALITATIF BAHASA MADURA DIALEK BANGKALAN https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/184 <p>Artikel ini membahas variasi yang muncul dari bahasa Madura di Bangkalan dengan kategori leksikon medan makna kekerabatan. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan variasi bahasa Madura di Kabupaten Bangkalan pada lima kecamatan di Bangkalan. Daerah pengamatan pada kecamatan tersebut meliputi, Kecamatan Kamal, Kecamatan Modung, Kecamatan Socah, Kecamatan Arosbaya, dan Kecamatan Bangkalan. Kelima kecamatan tersebut merupakan wilayah pesisir yang ada di Kabupaten Bangkalan. Penelitian ini khusus membahas wilayah pesisir laut. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode simak dan metode cakap. Hasil penelitian ini adalah kata ganti orang pertama ‘saya’ memiliki 3 variasi perubahan, yaitu /s??k?k/, /??k?k/, dan /?k?k/. Kata ganti orang kedua ‘kamu; memiliki 3 variasi perubahan, yaitu /s?d?h/, /b?’??/, dan / kak?h/. Hubungan kekerabatan meliputi ‘bapak’ memiliki 3 variasi perubahan, yaitu /?mma’/, /bapak/, dan /?ppa’/; bentuk kakak laki-laki memiliki 3 variasi, yaitu /kakak/, /ale’ lak?k/, dan /kakak lak?k/; adik laki-laki memiliki 2 variasi, yaitu /ghutt?h/ dan /anom/. Penyebutan kekerabatan yang lebih kompleks seperti, kakak perempuan dari ibu dan ayah, istri kakak laki-laki dari ayah dan dari ibu, istri adik laki-laki dari ayah dan dari ibu memiliki 2 variasi, yaitu /bhibbik/ dan /bh?b?’/.</p> Sri Rahayu Copyright (c) 2025 Sri Rahayu https://creativecommons.org/licenses/by-nd/4.0 https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/184 Tue, 18 Nov 2025 00:00:00 +0000 KONSTRUKSI NEOMASKULINITAS DALAM IKLAN KOSMETIK KAHF (ANALISIS WACANA KRITIS MODEL SARA MILLS) https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/185 <p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi neomaskulinitas dalam iklan kosmetik Kahf yang terdapat di akun Instagram @kahfeveryday dengan menggunakan analisis wacana kritis model Sara Mills. Neomaskulinitas mengacu pada representasi maskulinitas modern yang lebih inklusif, di mana pria tidak hanya diidentikkan dengan kekuatan dan ketegasan, tetapi juga dengan perawatan diri, kerentanan, kepekaan emosional, dan empati. Iklan kosmetik Kahf, yang diposisikan sebagai produk perawatan pria, berpotensi untuk merepresentasikan nilai-nilai baru dalam pembentukan identitas gender pria. Penelitian ini akan mengkaji bagaimana iklan tersebut membangun konsep maskulinitas yang lebih progresif dan menantang norma-norma maskulinitas tradisional, serta bagaimana peran pria dalam perawatan diri digambarkan dalam konteks iklan tersebut.&nbsp;Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan analisis wacana kritis. Data utama yang dianalisis adalah sembilan feed dalam bentuk teks dan elemen visual iklan kosmetik Kahf yang dipublikasikan di akun Instagram @kahfeveryday dalam rentang Februari-April 2025. Penelitian ini mempelajari bagaimana pria diposisikan dalam wacana tersebut, serta bagaimana representasi visual dan naratif dalam iklan tersebut mengonstruksi citra diri pria. Dengan menggunakan teori wacana kritis Sara Mills, penelitian ini akan mengeksplorasi bagaimana kekuasaan dan ideologi tentang gender dikonstruksi dalam iklan, serta bagaimana hubungan kekuasaan tersebut memengaruhi persepsi audiens terhadap maskulinitas. Teknik analisis data dilakukan dengan menginterpretasikan konstruksi neomaskulinitas berdasarkan pilihan kata, narasi visual dan sudut pandang, serta latar belakang sosial dan budaya.&nbsp;Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kahf sebagai industri kosmetik membentuk citra diri pria modern dengan konsep maskulinitas yang berbeda dari sebelumnya. Konsep maskulinitas yang diusung Kahf merepresentasikan bahwa laki-laki tidak harus bertubuh atletis dan berwajah rupawan. Dengan slogan “Pejuang BerKahf”, Kahf mengkonstruksi citra maskulin adalah laki-laki yang berjuang demi kehidupan diri dan keluarganya. Dalam mengupayakan perjuangan tersebut, laki-laki akan rentan dengan kelemahan fisik, mental, dan spiritual. Kerentanan itu diobjektifikasi oleh Kahf sebagai konsep baru citra maskulin dan Kahf hadir sebagai brand yang menemani lelaki menghadapi kerentanan tersebut.</p> Sunarsih Sunarsih, Anjar Nur Cholifah, Reza Pustika, Doni Alfaruqy, Tefur Nur Rohman Copyright (c) 2025 Sunarsih Sunarsih, Anjar Nur Cholifah, Reza Pustika, Doni Alfaruqy, Tefur Nur Rohman https://creativecommons.org/licenses/by-nd/4.0 https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/185 Tue, 18 Nov 2025 00:00:00 +0000 A SOCIOLINGUISTICS SURVEY IN FOUR HIGH LANGUAGE CONTACT AREAS IN WEST SUMATRA: TOWARDS AN ASSESSMENT OF THE MINANGKABAU LANGUAGE VITALITY https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/186 <p>This study aimed to assess the language vitality of the Minangkabau language in West Sumatra. It continues my previous research on the language attitudes of Minangkabau speakers (Thamrin, T: 2015), which was conducted in three high-language contact areas: Padang, Bukittinggi, and Payakumbuh. This current research focuses on additional high-language contact areas in West Sumatra, namely Padang Panjang, Pariaman, Sawahlunto, and Solok. The primary instruments used in this study included sociolinguistic questionnaires, informal interviews, and observations. The questionnaires specifically focused on adults aged 26 to 45. The results from these questionnaires were analyzed to assess the vitality of the Minangkabau language using two models: the UNESCO Nine Factors on Language Vitality and Endangerment (2003) and the EGIDS scale (Lewis and Simons, 2010). The findings reveal that Minangkabau is still used in the community. However, intergenerational language transmission of Minangkabau is decreasing, especially in two high language contact areas where there is a large shift away from Minangkabau in the youth generation, and there is a consistent shift everywhere between the adult and youth generations. The way the community feels about the Minangkabau language also has a big impact on its life. For many Minangkabau people, the language is an integral part of their cultural identity, while others believe it is less relevant in modern contexts. In order to preserve it, efforts must be made to promote positive views of Minangkabau, particularly among youth.</p> Temmy Thamrin, Maulid Hariri Gani Copyright (c) 2025 Temmy Thamrin, Maulid Hariri Gani https://creativecommons.org/licenses/by-nd/4.0 https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/186 Tue, 18 Nov 2025 00:00:00 +0000 TINDAK TUTUR EKSPRESIF DALAM WAG MAHASISWA PPG PILOTING GURU TERTENTU PASCAPENGUMUMAN KELULUSAN https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/187 <p>Bahasa merupakan media penting dalam komunikasi. Bahasa digunakan seseorang untuk mengungkapkan perasaan, keinginan, kekhawatiran, kegembiraan, dan sebagainya. Dalam proses pencapaian tujuan berbahasa, WhatsApp Group (WAG) memiliki peran penting dalam memudahkan seseorang berkomunikasi. Bahkan dalam sebagian besar kegiatan, seseorang akan membuat WAG untuk membantu koordinasi dan memberikan informasi penting sehingga tidak perlu menyebarkannya satu per satu. Hal inilah yang dilakukan oleh Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas PGRI Adi Buana Surabaya. Program studi ini sengaja membuat WAG yang diberi nama "T2 2024_PPG BI Pilotong Guru Tertentu" untuk memudahkan komunikasi dengan 110 mahasiswa. Peneliti tertarik pada pascapengumuman kelulusan UKPPPG, tepatnya pada tanggal 12 November 2024, banyak mahasiswa PPG yang menggunakan ujaran yang diproyeksikan ke dalam tindak tutur ekspresif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan fungsi dan bentuk ujaran ekspresif yang terdapat dalam WAG mahasiswa PPG Piloting pascapengumuman kelulusan. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan metode baca, simak, dan dokumentasi. Sumber data penelitian berupa kata, kalimat yang dituturkan mahasiswa melalui WAG mahasiswa guru piloting tertentu tahun 2024 Mata Pelajaran Bahasa Indonesia, Universitas PGRI Adi Buana Surabaya. Teori yang digunakan adalah teori tindak tutur ekspresif Searle dan Yule, sedangkan jenis tindak tutur menggunakan teori Wijana. Analisis data dilakukan dengan cara (1) mengidentifikasi tuturan anggota GWA T2_PPG BI Guru Pilotong Tertentu tahun 2024; (2) mengklasifikasikan data berdasarkan jenis tindak tutur ekspresif yang digunakan; (3) menyajikan data yang memuat tindak tutur ekspresif; (4) menyimpulkan data yang memuat tindak tutur ekspresif. Pengelompokan data dan penyajian data menggunakan kodifikasi. Hasil penelitian berupa pengelompokan seluruh tindak tutur yang termasuk dalam tindak tutur ekspresif menggunakan fungsi dan bentuknya. Fungsi tutur ekspresif yang ditemukan sebanyak 34 data. Dari 34 data, ditemukan sembilan fungsi tindak tutur ekspresif, yaitu mengharapkan 9 data, mengeluh 7 data, bertanya 5 data, memberi selamat 5 data, mengucapkan terima kasih 3 data, harapan gembira/positif 2 data, menyapa 1 data, meminta maaf 1 data, dan memberi nasihat 1 data.</p> Tri Indrayanti Copyright (c) 2025 Tri Indrayanti https://creativecommons.org/licenses/by-nd/4.0 https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/187 Tue, 18 Nov 2025 00:00:00 +0000 VARIASI DIALEKTAL ‘KELINGKING’ PADA BAHASA LAMPUNG https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/188 <p>Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan variasi bahasa Lampung secara dialektikal pada kosakata ‘kelingking’ dan menganalisisnya secara leksikal dan fonologis. Kosakata ‘kelingking’ termasuk ke dalam kosakata budaya yang mencerminkan nilai-nilai, identitas kelompok, dan interaksi sosial antar penutur. Pemilihan kosakata ‘kelingking’ menjadi keunikan tersendiri karena berdasarkan hasil observasi, ‘kelingking’ memunculkan variasi dialektal di lima titik pengamatan. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung, Indonesia. Metode penelitian yang diterapkan adalah metode kualitatif dengan teknik wawancara pada lima orang informan di lima titik pengamatan dengan jumlah penutur bahasa Lampung terbanyak dari lima kecamatan yang ada di Kabupaten Pringsewu. Sumber data dalam penelitian ini adalah penutur asli Lampung di Kabupaten Pringsewu di lima titik pengamatan yang meliputi Desa Margakaya,&nbsp; Desa Sinarwaya, Desa Wayakrui, Desa Pardasuka, dan Desa Sukaratu. Wilayah tersebut ditentukan berdasarkan penutur terbanyak dan dominan di tiap kecamatan. Hasil temuan menunjukkan terdapat lima variasi dialek bahasa Lampung meliputi ‘k?cik’, ‘k?d?cik’ ‘kalicik’ ‘k?licik’, dan ‘k?lincik’. Temuan tersebut mengidentifikasi bahwa variasi yang muncul secara fonologis memiliki kemiripan bunyi/metatesis. Kemiripan bunyi merujuk pada perubahan vokal dan konsonan, dan penambahan fonem. Sementara itu, faktor terjadinya variasi dialek pada kosakata ‘kelingking’ karena difusi leksikal akibat kontak bahasa. Selain itu, faktor-faktor terjadinya variasi dialek dipengaruhi oleh faktor geografis, migrasi, pernikahan antar etnis, dan interaksi dengan kelompok antar etnolinguistik. Berdasarkan temuan, variasi dialek yang muncul berasal dari lima titik pengamatan dengan latar belakang penutur berdialek A dan berasal dari kelompok adat Saibatin dan adat Pubian.</p> Veria Septianingtias, Indra Nugraha, Lusi Susilawati Copyright (c) 2025 Veria Septianingtias, Indra Nugraha, Lusi Susilawati https://creativecommons.org/licenses/by-nd/4.0 https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/188 Tue, 18 Nov 2025 00:00:00 +0000 A CORPUS SEMANTIC STUDY OF THE TERM 'LAJU' VARIATIONS IN PALEMBANGNESE https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/189 <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>This study employs a semantic corpus to investigate the linguistic patterns of the term <em>"laju"</em> in the Palembangnese. The main objective is to identify and analyze the varied meanings and contextual uses of&nbsp;<em>"laju,"&nbsp;</em>emphasizing its syntactic patterns and cultural significance in Palembangnese. The study uses <em>WhatsApp</em> text data of the daily written Palembangnese communication compiled into a corpus comprising &nbsp;1.406.134 tokens. The semantic corpus analysis focuses on<em> "laju" </em>concordances involving the word frequency and its collocations to understand how&nbsp;the word functions in the Palembangnese interactions. The study highlights the multifaceted nature of <em>"laju"</em> and its adaptability across different linguistic and cultural contexts by identifying the concordances. The findings reveal that recurring collocates of<em> "laju"</em> include <em>“</em><em>dak"</em> (no), <em>"gek"</em> (later), <em>"nak"</em> (want/will), <em>"aku"</em> (I), <em>"nah"</em> (particle/affirmative), <em>“dio”</em> (she/he), <em>“ngapo”</em> (why), <em>“nian”</em> (really/very), <em>“ke”</em> (to - preposition of direction), and <em>“kan”</em> (emphasis particle or question marker); and imply a wide range of <em>“laju” </em>meanings in Palembangnese, like cause-effect marker, permission, comparison/similarity, excessive behavior, and even the meanings 'to go' or 'to die'. The findings also provide scientific evidence that although "laju" is identical orthoplogically in Indonesian, it differs from Palembangnese use. It shows that cultural expression contributes to the complexity of word meanings.</p> Yenny Karlina Copyright (c) 2025 Yenny Karlina https://creativecommons.org/licenses/by-nd/4.0 https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/189 Tue, 18 Nov 2025 00:00:00 +0000 THE USE OF ACEHNESE PERSONA PRONOUNS AMONG THE YOUNGER GENERATION https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/193 <p>This study discusses the use of persona pronouns in Acehnese among the younger generation with a focus on forms, patterns, and social factors that affect its use. The phenomenon of a shift in the use of traditional Acehnese pronouns, such as <em>lon</em>, <em>droeneuh</em>, <em>gata</em>, and <em>kah</em>, began to be replaced by terms in Indonesian, foreign languages, as well as slang terms such as <em>sayang</em>, <em>beb</em>, <em>anti</em>, and <em>bro</em>. This study uses a qualitative approach with a sociolinguistic descriptive method. Data were collected through semi-structured interviews, participatory observation, and documentation of young people aged 15–25 years in Banda Aceh and Aceh Besar. The results of the study show that the use of pronouns has undergone a significant shift influenced by social media, education, social environment, and religious identity. This shift not only has an impact on linguistic aspects, but also reflects changes in cultural values and local identities. This research is expected to contribute to efforts to preserve the Acehnese language in the midst of social dynamics and modernization.</p> Armia Armia, Cut Zuriana, Nurrahmah Nurrahmah Copyright (c) 2025 Armia Armia, Cut Zuriana, Nurrahmah Nurrahmah https://creativecommons.org/licenses/by-nd/4.0 https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/193 Tue, 18 Nov 2025 00:00:00 +0000 PERAN CERITA RAKYAT “KI AGENG MIRAH“ DALAM MEMPERTAHANKAN IDENTITAS BUDAYA PONOROGO DI TENGAH ARUS MODERNISASI https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/194 <p>Peran Cerita Rakyat “Ki Ageng Mirah” dalam Mempertahankan Identitas Budaya Ponorogo di Tengah Arus Modernisasi merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana cerita rakyat ini berfungsi sebagai alat untuk mempertahankan dan melestarikan identitas budaya masyarakat Ponorogo. Cerita rakyat “Ki Ageng Mirah” tidak hanya menjadi bagian dari warisan budaya, tetapi juga berperan penting dalam membentuk karakter dan nilai-nilai masyarakat setempat. Dalam konteks modernisasi yang cepat, di mana budaya global sering kali mendominasi, cerita ini memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengingat dan menghargai tradisi mereka. Penelitian ini menggunakan metode wawancara mendalam dengan tokoh masyarakat, seniman lokal, dan generasi muda untuk memahami persepsi mereka terhadap cerita “Ki Ageng Mirah”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerita ini tidak hanya dipandang sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana pendidikan moral dan etika. Selain itu, cerita ini menjadi simbol identitas yang kuat bagi masyarakat Ponorogo, membantu mereka untuk tetap terhubung dengan akar budaya mereka di tengah pengaruh modernisasi. Dengan demikian, penelitian ini menekankan pentingnya pelestarian cerita rakyat sebagai bagian integral dari identitas budaya lokal. Melalui pemahaman yang lebih dalam tentang peran cerita rakyat seperti “Ki Ageng Mirah”, diharapkan masyarakat dapat lebih aktif dalam melestarikan warisan budaya mereka dan menghadapi tantangan modernisasi tanpa kehilangan jati diri.</p> Nasikhatul Ulla Al Jamiliyati, Sunaidin Ode Mulae Copyright (c) 2025 Nasikhatul Ulla Al Jamiliyati, Sunaidin Ode Mulae https://creativecommons.org/licenses/by-nd/4.0 https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/194 Tue, 18 Nov 2025 00:00:00 +0000 Sampul + Daftar Isi Prosiding KIMLI 2025 https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/191 Rosabela Rosabela Copyright (c) 2025 Rosabela Rosabela https://creativecommons.org/licenses/by-nd/4.0 https://kimli.mlindonesia.org/index.php/kimli/article/view/191 Tue, 18 Nov 2025 00:00:00 +0000