RUANG DAN TEMPAT DITINJAU DARI SUDUT PANDANG LINGUISTIK, PEDAGOGIS, DAN BUDAYA

Authors

  • Srisna J. Lahay Universitas Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.51817/kimli.vi.81

Keywords:

ruang, tempat, lanskap, narasi, linguistik, pedagogis, budaya

Abstract

Makalah ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan tentang bagaimana ruang dan tempat dikonstruksi dan apa implikasinya bagi mereka yang terlibat dalam konstruksi tersebut. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penulis menggunakan teori tentang ruang dan tempat yang diajukan oleh Yi-Fu Tuan (1977) dan mengacu kepada tiga artikel ilmiah yang berkaitan dengan ruang dan tempat, yaitu “Place and Landscape in Comparative Austronesian Perspective” yang ditulis oleh James J. Fox (2006), “A Woman's Place is in the School: Rhetorics of Gendered Space in the Nineteenth-Century America” yang ditulis oleh Jessica Enoch (2008), dan “Spatial Narrative in Sundanese Village” yang ditulis oleh Tommy Christomy (2018). Artikel Fox (2006) membahas cara-cara mengungkapkan tempat, ruang, dan lanskap yang ditemukan di beberapa masyarakat yang berbahasa Austronesia. Artikel Enoch (2008) menjelaskan bagaimana sekolah di Amerika Serikat pada abad ke-19 berubah dari ruang maskulin, terbuka, dan publik menjadi ruang yang feminin, tertutup, dan privat. Artikel Christomy (2018) mendiskusikan narasi ruang sebagai salah satu strategi penting yang berkaitan dengan kesadaran identitas dan konstruksi ruang di masyarakat adat Sunda. Penulis membandingkan isi masing-masing artikel tersebut, dan dengan mengacu kepada teori yang dikemukakan oleh Tuan (1977) serta konsep ruang dan tempat yang dibahas dalam ketiga artikel tersebut di atas, penulis lalu mengungkapkan konstruksi ruang dan tempat dan implikasinya bagi mereka yang terlibat di dalamnya. Dari pembahasan itu ditemukan bahwa ruang dan tempat dapat dikonstruksi dari penggunaan bahasa yang menggambarkan sebuah pulau seperti sebuah makhluk laut atau seorang manusia, narasi pedagogis yang menganggap sebuah sekolah bersifat maskulin atau feminin dan menyerupai sebuah penjara atau rumah, dan narasi budaya yang memungkinkan dua komunitas dengan latar belakang sejarah yang sama memiliki strategi yang berbeda terhadap perubahan eksternal yang terjadi di komunitas mereka. Berdasarkan pembahasan tersebut juga ditemukan bahwa konstruksi ruang dan tempat tersebut memiliki implikasi yang berbeda: tempat yang ada di bagian kepala sebuah pulau dianggap lebih superior dibandingkan yang ada di bagian ekor; sekolah yang bersifat feminin dan menyerupai sebuah rumah memungkinkan perempuan bekerja di sana sebagai guru; dan asal-usul dari sebuah kampung menyebabkan orang-orang kampung tersebut memiliki cara yang berbeda dalam menyikapi perubahan eksternal yang terjadi di komunitas mereka.

Downloads

Published

2022-04-02

How to Cite

J. Lahay, S. (2022). RUANG DAN TEMPAT DITINJAU DARI SUDUT PANDANG LINGUISTIK, PEDAGOGIS, DAN BUDAYA. Kongres Internasional Masyarakat Linguistik Indonesia, 371–374. https://doi.org/10.51817/kimli.vi.81