PENANDA KESANTUNAN BERBAHASA PADA MASYARAKAT BUGIS DI KABUPATEN SIDENRENG RAPPANG PROVINSI SULAWESI SELATAN
DOI:
https://doi.org/10.51817/kimli.vi.63Keywords:
penanda kesantunan berbahasa, etnik Bugis, pragmatikAbstract
Untuk menciptakan komunikasi yang komunikatif antara penutur dan mitra tutur dalam suatu proses komunikasi, diperlukan kesantunan berbahasa. Strategi kesantunan juga perlu digunakan untuk lebih menghargai orang lain. Namun, dalam komunikasi sehari-hari, konsep kesantunan belum diterapkan secara proporsional. Tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan bentuk kesantunan berbahasa masyarakat Bugis di Kabupaten Sidenreng Rappang dan (2) mendeskripsikan wujud kesantunan berbahasa masyarakat Bugis di Kabupaten Sidenreng Rappang. Dalam penelitian ini digunakan pendekatan pragmatik sesuai dengan konteks dan situasi ditinjau dari aspek semiotik sosial. Hasil analisis data menunjukkan bahwa bentuk kesantunan berbahasa masyarakat Bugis di Kabupaten Sidenreng Rappang, meliputi penggunaan afiks dalam bentuk morfem proklitik ta-, enklitik pronomina –ta, i-ki’, -ni’, kosakata honorifik iye’, tabe’, taparajangnga dampeng/ taddampengekka, dan penggunaan kata sapaan ‘idi’. Dalam refleksi strategi kesantunan berbahasa masyarakat Bugis di Kabupaten Sidenreng Rappang ditemukan ragam pragmatik dalam beberapa maksim, yaitu maksim kebijakan, kemurahan, penerimaan, kerendahan hati/simpati, serta realisasi dan implikasi budaya siri’ yang terealisasi dalam konsepsi nilai dasar etika dan kesopanan berbahasa, aktualisasi diri, citra diri, keberanian, dan kerja sama.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NoDerivatives 4.0 International License.