MENGANGKAT KAYU TERENDAM: PETATAH-PETITIH ADAT DALAM PROSESI AKAD NIKAH DI KOTA BENGKULU
DOI:
https://doi.org/10.51817/kimli.vi.23Keywords:
Akad Nikah, Petatah-Petitih, Peribahasa, pantunAbstract
Kota Bengkulu memiliki adat istiadat tersendiri dalam melaksanakan prosesi akad nikah. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan deskripsi tentang prosesi adat yang dilakukan oleh ketua adat sebelum berlangsungnya akad nikah di Bengkulu, yakni dengan saling bertegur sapa (petatah-petitih) antar ketua adat. Selanjutnya penelitian ini juga akan mengkaji petatah-petitih yang digunakan dengan melihat dari kajian bentuk, fungsi, dan nilai yang terkandung di dalam kalimat yang diucapkan. Penelitian in menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui teknik rekam, menyimak, dan mencatat. Selain itu juga digunakan teknik wawancara dengan ketua adat di Kelurahan Penurunan, kota Bengkulu sebagai informan kunci. Petatah-petitih berupa kalimat-kalimat perumpamaan yang diujarkan oleh masing-masing ketua adat merupakan data utama dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prosesi adat akad nikah ini dilaksanakan secara sakral di dalam rumah pengantin perempuan berupa ujaran-ujaran tegur sapa antar ketua adat (pihak pengantin laki-laki dan perempuan) dengan menggunakan bahasa Bengkulu. Dilihat dari segi bentuknya, petatah-petitih yang diujarkan adalah dalam bentuk peribahasa dan pantun dengan menggunakan kategori diksi; being, terrestrial, living dan animate. Dari segi fungsi, petatah-petitih ini tidak berfungsi sebagai hiburan, melainkan sebagai lambang jati diri masyarakat Bengkulu dan sebagai alat pemaksa dan pengawas norma-norma masyarakat untuk dipatuhi anggota kolektifnya sekaligus sebagai bunga penghias tradisi lisan di Bengkulu. Kalimat-kalimat dalam prosesi adat ini memiliki nilai religius, filosofis, dan sosiologis.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NoDerivatives 4.0 International License.